Kasus investasi ilegal seolah tak kunjung selesai. Dengan iming-iming hasil selangit ditawarkan demi mendapatkan banyak investor. Investasi bodong. Berbagai modus pun terus dilakukan. Beberapa cara terbaru, sebuah Koperasi Simpan Pinjam beriklan menarik nasabah dengan mengiming-imingi keuntungan dengan hasil 10-15% sebulan.

Sumber kami menyebutkan, dirinya diajak menaruh sejumlah modal dengan janji keuntungan 10-15% sebulan. Dengan minimal investasi awal Rp 5 juta, sumber yang tidak mau disebutkan namanya tersebut dijanjikan keuntungan sebesar Rp 500.000 per bulan. Cukup dengan invest saja, uang Rp 500.000 akan datang sendiri, serta uang setoran awal diputar-putar oleh orang yang menawarkan investasi ini.

Tetapi beruntung, rayuan dengan keuntungan yang tak masuk akal tersebut langsung ditolaknya.

KONTAK PERKASA FUTURES – Berdasarkan pada pada kasus tersebut, sekarang ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mulai menyelidiki Koperasi Simpan Pinjam Pandawa yang menggunakan modus yang sama. Masyarakat dijanjikan dengan mendapatkan keuntungan hingga 50% per bulan agar masyarakat bersedia menjadi menjadi anggotanya.

Hal tersebut sudah menyebar di daerah sekitaran Depok, Jawa Barat. Investasi yang diperkirakan bodong juga terjadi di Malang, Jawa Timur, tetapi modusnya berbeda.

“Kalau di Depok tersebut penghimpunan dana yang sifatnya mirip dengan multilevel,” jelas Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen saat ditemui di Hotel Grand Hyatt, Kusumaningtuti S Soetiono,  Jakarta, Kamis (11/8/2016).

Sedangkan untuk hal yang sama di kota Malang, skemanya adalah dengan menggunakan penawaran pelunasan kredit atau pembebasan utang yang mengatasnamakan dengan lembaga pemerintah. Modusnya, nasabah harus mau menyetorkan uang dengan nilai Rp 300.000 untuk dapat terdaftar sebagai anggota.

Setelah uang tersebut disetorkan, para nasabah mendapatkan bukti berupa selembar kertas yang menyatakan bahwa kertas tersebut dapat dijadikan sebagai jaminan pembebasan utang. Dengan kata lain, setiap nasabah yang memiliki kartu tersebut, dapat terbebas dari utang yang dia miliki dengan cara menyodorkan bukti keanggotaan saja.

“Apabila yang di Malang itu kan semakin banyak, ternyata itu memungut satu orang tersebut dikenakan bayaran Rp 300.000, lalu dikeluarkan surat yang berkaitan, bisa lunas utang kreditnya,” ututrnya.

Tawaran yang sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana mungkin, hanya menyetorkan Rp 300.000, seluruh utang yang dimiliki oleh masyarakat lunas begitu saja. Investasi bodong. Tapi ternyata, hal tersebut cukup banyak menarik minat masyarakat. Jumlah nasabah yang mengikuti investasi tersebut di Malang sudah mencapai 70.000 orang.

“Jumlahnya sudah semakin meluas, hal tersebut sudah mulai meresahkan,” tandasnya.

Menanggapi hal-hal mengenai masalah tersebut, 2 hari lalu, OJK membentuk satuan tugas (satgas) waspada investasi yang bertujuan mengatasi persoalan tersebut. OJK juga ikut melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta Kepolisian.

Tetapi OJK masih sedikit mengalami ganjalan, sebab hingga saat ini belum ada pengaduan nasabah yang mengalami kerugian.

“Kita mendapatkannya berasal dari pengaduan. Investasi bodong. Ketika kita memminta datanya apakah ada yang dirugikan mereka tidak bersedia, jadi masih dijajaki. Diskusi bersama kepolisian, kita tidak bisa memakai delik pengaduan,” pungkasnya.

Source : detik.com