PT KONTAK PERKASA Hampir seluruh indeks saham Wall Street memerah setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve mengumumkan kebijakan moneter yang lebih dovish daripada prediksi pasar. Rabu (20/3), Dow Jones Industrial Average turun 0,55% ke 25.745,67.

Indeks S&P 500 turun 0,29% ke 2.824,23. Nasdaq Composite justru naik tipis 0,07% ke 7.728,97.
Sejak awal perdagangan, bursa saham AS cenderung turun. Tiga indeks saham utama ini sempat menguat setelah pernyataan The Fed. Tapi, hanya Nasdaq yang bertahan di zona hijau.

“Reaksi pertama atas pernyataan The Fed selalu merupakan reaksi yang salah,” kata Art Hogan, chief market strategist National Securities kepada Reuters.

Bank sentral mengindikasikan tidak ada kenaikan suku bunga tahun ini. Federal Reserve pun akan menghentikan pengurangan neraca sepenuhnya pada September mendatang setelah memangkas penurunan secara bertahap.

RJ Grant, head of trading Keefe, Bruyette & Woods mengatakan, aksi jual saham-saham bank membesar.  Saham-saham sektor finansial yang sensitif terhadap suku bunga kemarin menjadi pemberat indeks. Sektor finansial turun tajam 2,1% hingga akhir perdagangan.

Menurut proyeksi median anggota Federal Open Market Committe, ekonomi AS akan tumbuh 2,1% pada tahun ini, turun 1% penuh dari pertumbuhan tahun lalu.

Selain perlambatan pertumbuhan, tingkat pengangguran diperkirakan 3,7%, sediki lebih tinggi ketimbang prediksi tiga bulan lalu.

The Fed memperkirakan, tingkat inflasi tahun ini berada di level 1,8%, turun jika dibandingkan dengan prediksi Desember lalu pada level 1,9%.

“Pertumbuhan aktivitas ekonomi melambat dari laju yang solid pada kuartal keempat lalu. Indikator terkini menunjukkan perlambatan pertumbuhan belanja rumah tangga dan investasi bisnis di kuartal pertama. Inflasi secara keseluruhan menurun,” ungkap The Fed dalam pernyataan.

Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve menghentikan kebijakan pengetatan moneter. Bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini di tengah tanda-tanda perlambatan ekonomi. The Fed pun akan menghentikan pengurangan neraca pada September mendatang.

Keputusan ini diambil setelah dua hari rapat hingga Rabu (20/3). Bank sentral memulai pengetatan moneter lewat kenaikan suku bunga pada akhir 2015 setelah menahan suku bunga acuan 0%-0,25% sejak krisis keuangan 2008-2009. Tahun lalu, bank sentral menaikkan suku bunga acuan hingga empat kali hingga saat ini berada di 2,25%-2,5%.

Setelah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi AS, tingkat pengangguran dan inflasi, The Fed mengatakan suku bunga overnight atau Fed Fund Rate akan tetap berada di posisi saat ini setidaknya hingga akhir tahun.

Reuters melaporkan, The Fed tidak melihat perlu menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi, yang masih berada di bawah target bank sentral pada level 2%. The Fed pun mengatakan akan memperlambat pengurangan aset secara bulanan yang sekarang berada di US$ 50 miliar per bulan.

The Fed akan memperlambat pengurangan ini hingga akhirnya berhenti pada bulan September. Sekadar informasi, The Fed mulai mengurangi aset yang saat ini mencapai lebih dari US$ 4 triliun sejak akhir 2017 lalu.

Dari sisi suku bunga, bank sentral mengungkapkan tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini dari rencana sebelumnya dua kali kenaikan hingga Desember. “Mungkin perlu beberapa waktu hingga outlook pasar tenaga kerja dan inflasi memerlukan perubahan kebijakan,” kata Jerome Powell, Gubernur The Fed dalam konferensi pers setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Powell menegaskan kembali bahwa bank sentral akan bersabar sebelum menaikkan suku bunga lagi. “Bersabar artinya, kami tidak melihat perlunya terburu-buru mengambil keputusan,” imbuh dia.

Dalam pernyataan, FOMC mengungkapkan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan dan pasar tenaga kerja yang sehat akan menjadi skenario ekonomi AS. Tapi, belakangan muncul keraguan di tengah perlambatan belanja rumah tangga dan investasi bisnis.

Pemangkasan pajak yang menjadi penopang pertumbuhan tahun 2018 kini sudah tidak terasa lagi dampaknya. Menurut proyeksi median anggota dewan bank sentral, ekonomi AS akan tumbuh 2,1% pada tahun ini, turun 1% penuh dari sekitar 3% pertumbuhan tahun lalu.

Keputusan suku bunga ini sejalan dengan prediksi pasar. “Saya tidak melihat bank sentral menaikkan suku bunga tahun ini. Tapi, bank sentral lebih dovish daripada perkiraan,” kata Brian Jacobsen, senior investment strategist Wells Fargo Asset Management.

Prediksi ekonomi baru The Fed menunjukkan pelemahan di semua sektor jika dibandingkan dengan prediksi Federal Reserve pada Desember lalu. Selain perlambatan pertumbuhan, tingkat pengangguran diperkirakan 3,7%, sedikit lebih tinggi ketimbang prediksi tiga bulan lalu.

The Fed memperkirakan, tingkat inflasi tahun ini berada di level 1,8%, turun jika dibandingkan dengan prediksi Desember lalu pada level 1,9%.

“Pertumbuhan aktivitas ekonomi melambat dari laju yang solid pada kuartal keempat lalu. Indikator terkini menunjukkan perlambatan pertumbuhan belanja rumah tangga dan investasi bisnis di kuartal pertama. Inflasi secara keseluruhan menurun,” ungkap The Fed.

Source : kontan.co.id