KONTAK PERKASA FUTURES – Wall Street tertatih-tatih ke wilayah positif pada hari Rabu (25 April 2018). Pasar cukup optimis atas serentetan kenaikan pendapatan beberapa emiten yang meneritkan laporan keuangan.

Namun, pada saat yang sama, sebagian pelaku pasar masih gelisah atas kenaikan imbal hasil obligasi AS dan peningkatan biaya perusahaan. Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Amerika Serikat tenor 10 yang menjadi patokan bunga pinjaman global berakhir di atas 3%.

Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average berakhir menguat setelah perdagangan yang fluktuatif. Sayangnya, Nasdaq masih melanjutkan penurunan kelima, terbebani oleh penurunan saham-saham teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 59,7 poin atau 0,25% menjadi 24.083,83. Indeks S&P 500 naik 4,84 poin (0,18%) ke 2.639,4. Adapun Nasdaq Composite turun 3,62 poin (-0,05%) menjadi 7.003,74.

Pasar saham Asia dibuka menguat pada Kamis (26/4). Laju bursa Asia mengekor rebound indeks saham di negeri Paman Sam, semalam.

Mengutip Reuters, Kamis, indeks MSCI Asia Pasifik (kecuali Jepang) naik tipis 0,09% pada pukul 07.28 WIB.

Bloomberg mencatat, indeks Nikkei 225 naik 0,68% pada pukul 08.10 WIB. Sementara, Kospi Korea Selatan menanjak 1,08%, dan indeks Australia S&P/ASX 200 menguat 0,14%.

Pasar Asia mendapat katalis positif setelah indeks Dow Jones mengakhiri penurunan lima hari. Pada perdagangan Rabu, Dow Jones ditutup naik 0,25%, dan S&P 500 menguat 0,18%. Laporan laba perusahaan yang solid membantu Wall Street mengimbangi kekhawatiran atas lonjakan imbal hasil obligasi AS.

Sebelumnya, lonjakan yield US Treasruy 10 tahun hingga melampaui level 3%, telah membebani pasar saham. Wall Street. Sebab, biaya pinjaman perusahaan dikhawatirkan meningkat, yang bisa menggerus pencapaian laba.

“Pasar ekuitas meluncur tajam pada bulan Januari dan Maret sebagai respons terhadap kenaikan yield US Treasury. Tetapi, Federal Reserve mengisyaratkan pada Maret bahwa kenaikan suku bunga akan bertahap,” kata Masahiro Ichikawa, ahli strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management, seperti dilansir Reuters.

“Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga AS secara bertahap memungkinkan pasar saham merespons kenaikan yield US Treasury dengan tenang,” imbuhnya.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik menjadi 3,035%, semalam. Ini level tertinggi sejak Januari 2014. Imbal hasil naik karena ekspektasi ekspansi ekonomi AS yang stabil, mempercepat inflasi dan kekhawatiran tentang peningkatan pasokan utang.

Dari pasar komoditas, harga minyak mentah berjangka di pasar AS menanjak hingga mencapai US$ 68,05 per barel, semalam. Di pasar Asia, minyak melanjutkan reli ke posisi US$ 68,38 sebarel pada Kamis pukul 08.10 WIB. Harga minyak mentah menguat di tengah prospek sanksi baru terhadap Iran dan kekhawatiran terkait produksi dari Venezuela.

Source : kontan.co.id