KONTAK PERKASA FUTURES – Wall Street tergerus pada perdagangan Kamis (21/1). Semalam, Dow Jones Industrial Average turun 0,40% ke level 25.850. Nasdaq Composite turun 0,39% ke angka 7.459.

Indeks S&P 500 tergerus 0,35% ke 2.774. Indeks S&P 500 menghentikan reli kenaikan yang terjadi dalam tiga hari berturut-turut.

Kemarin, Departemen Perdagangan mengatakan pesanan baru barang modal di perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) turun di bulan Desember. Penurunan pesanan barang modal ini menunjukkan potensi penurunan belanja modal.

Federal Reserve Philadelphia yang mengukur aktivitas bisnis Mid-Atlantic pun melaporkan penurunan. Aktivitas bisnis di bulan Februari mencapai level terendah sejak Mei 2016. Data lain yang dirilis kemarin adalah penjualan rumah existing yang turun ke level terendah sejak November 2015.

“Pasar telah melaju sebelumnya dan kini kita memiliki data yang menyebabkan investor mengambil untung,” kata Paul Nolte, portfolio manager Kingsview Asset Management kepada Reuters.

Nolte menambahkan bahwa dia sedikit terkejut dengan penurunan di berbagai data. “Sebagian penurunan disebabkan kondisi cuaca dan sebagian terkait perdagangan. Sulit memperkirakan akan jadi seperti apa tanpa faktor tersebut,” kata dia.

Kenaikan bursa beberapa waktu belakangan didorong oleh negosiasi dagang AS dan China serta posisi Federal Reserve yang masih menahan suku bunga. AS dan China mulai menyusun komitmen utama di masalah-masalah paling sulit pada perdagangan kedua negara. Menurut sumber Reuters, kedua pihak berupaya mencapai kesepakatan sebelum 1 Maret.

Wall Street menghijau pada pertengahan pekan ini. Rabu (20/2), Dow Jones Industrial Average menguat 0,24% ke level 25.954.

Indeks S&P 500 menguat 0,18% ke 2.784. Nasdaq Composite menguat tipis 0,03% ke 7.489. Seluruh indeks Wall Street menguat pada perdagangan kemarin.

Notulen rapat Federal Reserve yang dirilis kemarin menegaskan kembali pada investor bahwa bank sentral akan lebih bersabar dalam kenaikan suku bunga acuan. Tapi, The Fed tidak menyebutkan berapa lama akan menahan kenaikan suku bunga.

Joe Manimbo, senior market analyst Western Union Business Solutins mengatakan, catatan rapat menunjukkan kembali pernyataaan hati-hati The Fed dari pertemuan terakhir. “Saya memandang kenaikan bunga akan terhenti hingga beberapa waktu di tahun ini. Tapi The Fed akan menghentikan posisi ini jika potensi penurunan mereda,” kata dia kepada Reuters.

Catatan rapat juga menunjukkan bahwa bank sentral akan melanjutkan penurunan aset yang saat ini mencapai US$ 4 triliun.

Bulan lalu, The Fed menghentikan sementara kenaikan suku bunga yang dimulai sejak tiga tahun lalu. Bank sentral mengatakan akan lebih bersabar dan mengurangi laju kenaikan suku bunga.

Tahun lalu, The Fed menaikkan suku bunga empat kali menjadi 2,25% hingga 2,5%. Bank sentral kemungkinan akan menaikkan suku bunga satu atau dua kali tahun ini.

Kelanjutkan negosiasi dagang Amerika Serikat (AS) dan China turut menjadi sentimen positif pasar. Tapi, Rabu (20/2), Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menerapkan tarif impor pada mobil Eropa jika tidak mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa.

Source : kontan.co.id