KONTAK PERKASA FUTURES – Bursa saham Wall Street di United States of America menguat secara signifikan dalam 3 hari sebelumnya. Pada perdagangan Kamis, Wall Street menguat hingga 1% lebih.

Penguatan bursa saham tersebut cukup untuk menanggulangi kerugian yang terjadi pada akhir minggu lalu, sesudah keputusan Inggris berpisah dari Uni Eropa (Brexit). Sementara itu, bank sentral Inggris pun berencana memberikan stimulus untuk menyemangati perekonomian negaranya.

“Saat ini kami menilai, Brexit sebagai keputusan politik, bukan keputusan ekonomi,” ujar Analis, Bucky Hellwig, dihimpun dari Reuters, Jumat (1/7/2016).

Pada perdagangan kemarin, indeks Dow Jones menguat 235,31 poin (1,33%) menjadi 17.929,99. Indeks S&P 500 menguat 28,09 poin (1,36%) menjadi 2.098,86. Sedangkan indeks Nasdaq menguat 63,43 poin (1,33%) menjadi 4.842,67.

Semua sektor saham menguat pada perdagangan kamis. Ada sejumlah 8,7 miliar lembar saham yang diperjualbelikan, di atas rata-rata perharinya sejumlah 7,6 miliar lembar saham pada masa 20 hari terakhir.

Sektor keuangan memimpin indeks S&P dengan naik 2,3 persen, tertinggi dari semua sektor. Demikian pula saham energi melonjak 2 persen, didukung kenaikan harga minyak. Semua dari 10 kelompok industri ditutup lebih tinggi.

“Ini bukan akhir dari dunia dan tidak pernah ada akhir dunia, dan terdapat berbagai jenis reaksi konyol saat ini,” kata Jeff Weniger, Strategi Portofolio Senior BMO Private Bank di Chicago.

Adapun rebound Wall Street dalam dua hari terakhir bertepatan dengan kenaikan harga minyak, yang menguat setelah terjadi penarikan lebih besar dari perkiraan dalam persediaan minyak mentah AS.

“Orang-orang masih menggunakan minyak sebagai semacam proxy untuk membaca kondisi ekonomi global,” kataChuckCarlson,ChiefExecutiveOfficer HorizonInvestmentServices diHammond,Indiana.

Menambah sentimen positif, belanja konsumen AS tercatat naik untuk bulan kedua berturut-turut pada Mei. Ini seiring meningkatnya permintaan untuk mobil dan barang-barang lainnya. Namun ada kekhawatiran Brexit bisa mempengaruhi permintaan rumah tangga sehingga mengurangi konsumsi.

Saat ini pedagang sebagian besar mendapatkan keuntungan jangka pendek terkait kenaikan suku bunga AS, di mana prediksinya hanya sedikit yang menilai akan ada kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve di Desember, menurut situs CME Group FedWatch.

“Penundaan pada kenaikan suku bunga membantu pasar secara keseluruhan menikmati prospek kebijakan jangka panjang,” kata Tim Ghriskey, Kepala Investasi Solaris Asset Management di New York.

Source : detik.com