PT KONTAK PERKASA FUTURES – Wall Street melorot pada perdagangan Selasa (22/1) setelah libur sehari di awal pekan. Kemarin, Dow Jones Industrial Average turun 1,22% ke 24.404.

Indeks S&P 500 turun 1,42% dan ditutup pada 2.632,90. Indeks Nasdaq mencetak penurunan terbesar, yakni 1,91% dalam sehari ke level 7.020.

Wall Street menghentikan reli kenaikan dalam empat hari berturut-turut sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi global yang diramal melambat, belum terangnya penyelesaian perang dagang, serta prediksi kinerja emiten yang mengecewakan menjadi sentimen negatif pada perdagangan yang berakhir tadi pagi.

Indeks saham melorot setelah penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menyangkal laporan Financial Times bahwa pemerintahan Trump membatalkan pembicaraan dagang dengan China. Laporan ini muncul di tengah pemangkasan prediksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF.

“Tampaknya sangat banyak kabar buruk akan ekonomi global dan China. Laporan laba emiten tidak mampu menutup kabar buruk ini,” kata Chuck Carlson, chief executive officer Horizon Investment Service kepada Reuters.

Pekan ini, emiten bursa akan mulai merilis laporan keuangan. Asa kekhawatiran bahwa laba korporasi melambat di kuartal keempat dan emiten akan menyajikan proyeksi kinerja selanjutnya yang lebih pesimistis. “Akan akan perlawanan antara rilis laporan kuangan dan persepsi pasar terhadap China dan pasar global,” imbuh Carlson.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street memerah saat pembukaan pasar saham, Selasa (22/1). Wall Street dibuka lebih rendah setelah reli selama empat minggu berturut-turut. Penurunan Wall Street dipicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global pasca Dana Moneter Internasional (IMF) memangas prospek pertumbuhannya dalam sepekan.

Pada pembukaan Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average turun 98,59 poin, atau 0,40% menjadi 24.607,76;  S&P 500 dibuka lebih rendah sebesar 12,83 poin, atau 0,48% menjadi 2.657,88. Nasdaq Composite turun 47,66 poin, atau 0,67 %, menjadi 7.109,57.

Kepala Strategi Pasar National Securities di New York Art Hogan mengatakan,  kekhawatiran investor terjadi karena pertumbuhan ekonomi global yang kian melambat. “S&P 500 memiliki lebih dari setengah perusahaan yang memiliki bisnis di luar negeri, sehingga pandangan seperti ini juga akan berdampak pada pendapatan tahun ini,” ujarnya seperti dikutip Reuters.

Menurutnya, penurunan perkiraan pertumbuhan ekonomi global oleh IMF menjadi 3,5% pada 2019 dan 3,6% pada 2020, atau masing-masing turun 0,2% dan 0,1% menunjukkan kalau ekonomi negara-negara maju semisal Eropa terus melemah. Demikian juga pertumbuhan ekonomi China saat merilis data pertumbuhan ekonominya tercatat terendah dalam 28 tahun terakhir.

Pada pukul 10.01 waktu New York, Wall Street melanjutkan penurunan. Jones Industrial Average turun 166,65 poin, atau 0,67% menjadi 24.539,70, S&P 500 turun 23,09 poin atau 0,86% menjadi 2.647,62 dan Nasdaq Composite turun 72,29 poin, atau 1,01% menjadi 7.084,94.

Namun sejumlah analis menilai rontoknya saham-saham di negara maju tidak akan berdampak signifikan bagi bursa saham di Indonesia. Hal itu ditandai dengan tingginya pembelian asing di pasar domestik. Pada perdagangan hari Selasa (22/1), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,27% setelah sempat dilanda aksi jual selama perdagangan.

Source : kontan.co.id