PT KONTAK PERKASA FUTURES – Indeks saham Wall Street berguguran pada perdagangan Kamis (19/4). Dow Jones Industrial Average turun 0,34% ke 24.664,89. Indeks S&P turun 0,57% ke 2.693,13. Nasdaq Composite turun 0,78% ke 7.238,06.

Sektor barang konsumer menjadi salah satu pemberat bursa. Penurunan dipicu oleh harga saham Philip Morris yang merosot 15,6%. Harga saham Altria, induk usaha Philip Morris USA turun 6%.

Emiten konsumer lainnya, Procter & Gamble, mencatat penurunan harga saham hingga 3,3% setelah mengumumkan persediaan yang turun serta susutnya margin karena kenaikan harga komoditas dan biaya transportasi.

Di sisi lain, peringatan dari Taiwan Semiconductor, produsen cip dan pemasok Apple yang mengatakan bahwa permintaan smartphone tumbuh tipis tahun ini, menjadi pemberat saham Apple.

Kemarin, harga saham Apple turun 2,8%. Dengan kapitalisasi pasar yang besar, Apple menjadi pemberat indeks S&P 500.

Tak cuma pasar saham, pasar obligasi pun kena tekanan jual. Harga US treasury turun dan menyebabkan imbal hasilnya naik. Kenaikan imbal hasil ini mendorong kenaikan saham-saham perbankan. “Sektor keuangan menguat karena mereka akan mencatat kinerja lebih baik pada kondisi suku bunga yang lebih tinggi,” kata Richard Sichel, senior investment strategist Philadelphia Trust Company kepada Reuters.

Ketika imbal hasil surat utang tinggi, investor akan lebih memilih untuk menaruh dana di obligasi daripada sektor defensif seperti barang konsumer dan real estate. Apalagi, suku bunga yang lebih tinggi akan mengerek margin bank.

Hingga kemarin, baru 52 emiten indeks S&P 500 yang merilis laporan keuangan. Dari jumlah tersebut, 78,8% mencatat laba lebih tinggi ketimbang ekspektasi.

Bursa saham AS, Wall Street, ditutup lebih tinggi pada hari Senin (16 April 2018) dengan lompatan angka indeks terbesar dari sektor teknologi dan kesehatan. Investor optimistis terhadap musim pelaporan laba dan tampak kurang khawatir lagi tentang serangan rudal yang dipimpin AS di Suriah.

Serangan udara akhir pekan menandai intervensi terbesar oleh negara-negara Barat terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya Rusia, yang menghadapi sanksi ekonomi lebih lanjut atas perannya dalam konflik.

Harga saham menurun pada hari Jumat pekan lalu karena kekhawatiran tentang Suriah. Namun para investor tampaknya kurang khawatir tentang kemungkinan akan ada pembalasan dari Rusia, sekutu Assad, karena tidak ada satu pun balasan pada akhir pekan.

“Kondisi geopolitik tenang,” kata Tim Ghriskey, Kepala Strategi Investasi di Inverness Counsel di New York. “Ada banyak antisipasi tentang pertumbuhan laba yang sangat kuat di kuartal ini. Itu mungkin menarik trader dan bahkan investor jangka panjang untuk kembali ke pasar.”

Perusahaan-perusahaan yang masuk daftar S&P 500 diperkirakan melaporkan lompatan 18,6% dalam laba kuartal pertama 2018 ini, secara rata-rata. Wall Street. Ini akan menjadi  kenaikan terbesar dalam tujuh tahun, menurut data Thomson Reuters.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 212,9 poin (0,87%) menjadi 24.573,04. Lalu, S&P 500 naik 21,54 poin (0,81%) menjadi 2.677,84 dan Nasdaq Composite menambahkan 49,64 poin (0,7%) menjadi 7.156,29.

Source : kontan.co.id