PT KONTAK PERKASA FUTURES – Wall street. Pasar saham Amerika Serikat (AS) anjlok pada perdagangan Senin (5/2) waktu setempat. S&P 500 bahkan mencatat penurunan tertajam dalam enam tahun terakhir.

Mengutip CNBC, Dow Jones Industrial Average ditutup turun 1.175,21 poin atau setara 4,60% menjadi 24.345,75. Bahkan, indeks acuan 30 saham ini sempat tumbang lebih dari 1.500 poin.

Indeks S&P 500 juga anjlok 113,19 poin atau 4,10% ke posisi 2.648,94. Ini penurunan harian paling tajam sejak Agustus 2011 silam. Padahal, di awal perdagangan, indeks sempat menguat didukung kenaikan saham sektor teknologi. Dibandingkan posisi rekor tertinggi yang dicetak bulan lalu, S&P tercatat sudah turun lebih dari 7%.

Sementara, Nasdaq berakhir turun 273,42 poin atau 3,78% menjadi 6.967,53. Di awal perdagangan, indeks sempat naik sebanyak 0,5%.

Penurunan tajam hari Senin memperpanjang aksi jual signifikan yang terjadi pada sesi Jumat lalu. Investor ramai-ramai melepas saham karena ekspektasi laju inflasi akan memicu kenaikan suku bunga lebih cepat.

“Ini aksi jual dalam skema yang lebih besar. Tidak begitu besar, tapi sangat penting dalam hal psikologis,” kata Quincy Krosby, kepala strategi pasar Prudential Financial, seperti dilansir CNBC.

Secara teknikal, Jeff Kilburg, CEO KKM Financial menyebut, begitu indeks memecahkan moving average (MA) 50, terjadi lonjakan volatilitas.

Akhir pekan lalu, Wall Street juga turun tajam dipicu kenaikan tajam yield US Treasury. Wall street. Imbal hasil surat utang AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi empat tahun. Semalam, yield yang sama mencapai 2,88%, sebelum diperdagangkan di sekitar 2,75%.

“Pada Januari, saham dan imbal hasil obligasi terlihat ingin melewati target akhir tahun, sebelum memulai 2018. Saya pikir kedua pasar hanya mengambil nafas,” kata John Augustine, kepala investasi di Huntington Private Bank.

Bursa saham Amerika Serikat jatuh dalam pada transaksi penutupan Jumat (2/2). Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 666,75 poin dan ditutup pada level 25.520,96. Dengan demikian, indeks Dow Jones mengalami penurunan terburuk sejak Juni 2016 di mana pada saat itu indeks acuan AS ini melorot lebih dari 500 poin.

Sementara itu, indeks S&P 500 turun 2,1% dan bertengger di posisi 2.762,13. Sektor energi merupakan sektor dengan performa terburuk. Sedangkan indeks Nasdaq anjlok 1,96% menjadi 7.240,95. Penurunan saham Apple dan Alphabet menggerus performa baik dari saham Amazon.

Aksi jual yang melanda bursa AS terjadi setelah data tenaga kerja AS yang lebih baik dari prediksi menyebabkan tingkat suku bunga acuan terkerek.

“Kami memang sudah memprediksi adanya penurunan untuk sementara waktu. Memang, kinerja emiten sangat kuat dan perekonomian berjalan baik, namun market tidak bisa naik terus,” jelas Gene Goldman, head of research Cetera Financial.

Pada transaksi kemarin, pelaku pasar juga memperhatikan rilis laporan keuangan emiten utama. Exxon Mobil, misalnya, melaporkan pelemahan kinerja dari yang diprediksi, sehingga menyebabkan saham mereka melorot.

Apple melaporkan kinerja kuartalan yang lebih baik dari perkiraan. Namun, harga saham Apple anjlok 4,4% setelah perusahaan memprediksi margin laba mereka akan berada di kisaran 38% hingga 38,5%, sedikit lebih rendah dari prediksi 38,9%. Apple juga melaporkan kenaikan tipis dari penjualan iPhone pada kuartal sebelumnya.

Induk usaha Google, Alphabet, juga melaporkan kinerja kuartalan di mana laba per saham mereka tak mencapai ekspektasi. Saham perusahaan merosot 5,3% akibat laporan ini.

Sedangkan Amazon meroket ke level tertinggi sepanjang sejarah seiring kinerja mereka yang sangat kuat. Perusahaan e-commerce raksasa ini mengatakan penjualan Amazon Web Services mencapai US$ 5,11 miliar. Hasil polling analis oleh FactSet memprediksi pendapatan AWS hanya sebesar US$ 4,97 miliar.

Source : kontan.co.id