KONTAK PERKASA FUTURES –  Sampai bulan April 2016, total utang pemerintah mencapai Rp 3.279,28 T. Naik Rp 7,46 T dibandingkan bulan Maret 2016, yaitu Rp 3.271,82 T.

Dalam nilai dolar AS, jumlah utang pemerintah di bulan April 2016 mencapai US$ 248,36 M, naik dari bulan Maret 2016 senilai US$ 246,45 M.

Umumnya utang pemerintah tersebut berada dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN). Sampai akhir April 2016, nilai penerbitan SBN yaitu hingga Rp 2.529,92 T, naik dari bulan Maret 2016 yaitu sebesar Rp 2.521,66 T. Sementara itu, pinjaman bilateral maupun multilateral tertulis Rp 749,37 T, turun dari bulan sebelumnya Rp 750,16 T.

Demikian dikutip dari data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Selasa 24 Mei 2016.

Berikut adalah perkembangan utang pemerintah dan rasionya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak tahun 2000:

2000: Rp 1.234,28 T (89%)
2001: Rp 1.273,18 T (77%)
2002: Rp 1.225,15 T (67%)
2003: Rp 1.232,5 T (61%)
2004: Rp 1.299,5 T (57%)
2005: Rp 1.313,5 T (47%)
2006: Rp 1.302,16 T (39%)
2007: Rp 1.389,41 T (35%)
2008: Rp 1.636,74 T (33%)
2009: Rp 1.590,66 T (28%)
2010: Rp 1.676,15 T (26%)
2011: Rp 1.803,49 T (25%)
2012: Rp 1.975,42 T (27,3%)
2013: Rp 2.371,39 T (28,7%)
2014: Rp 2.604,93 T (25,9%)
2015: Rp 3.098,64 T (26,8%)

Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, kemarin mengungkapkan selama anggaran negara masih defisit, maka utang akan bertambah. Bambang mengatakan, dalam kondisi saat ini tidak ada satu pun negara yang memiliki anggaran surplus. Artinya negara-negara memakai utang untuk menutupi kebutuhan belanja.

Source : detik.com