PT KONTAK PERKASA FUTURES – Untuk sementara, para investor, mari kita mencari tempat aman. Kendati masih positif, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kurang bergairah bisa memicu sejumlah risiko bagi portofolio investasi.

Sebagai gambaran, ekonomi Indonesia di kuartal II-2017 tumbuh 5,01%. Meski sama dengan kuartal sebelumnya, pertumbuhannya di bawah kuartal II-2016.

Dalam situasi ini, Direktur Investasi Sucorinvest Asset Management Indonesia Jemmy Paul Wawointana mengatakan, investor perlu berhati-hati saat masuk ke pasar. “Kami juga masih menunggu waktu untuk masuk,” kata Jemmy, kemarin. Ia memperkirakan baru bisa agresif lagi di portofolio saham dan obligasi jangka panjang pada September atau Oktober.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang kurang greget, Head of Investment Aberdeen Asset Management Bharat Joshi mengatakan, investor ritel perlu mengatur ulang portofolio investasinya. “Investor ritel perlu melakukan diversifikasi portofolio pada instrumen saham, pendapatan tetap dan cash,” kata Joshi.

Sementara Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo bilang, perusahaannya masih fokus pada saham big caps dengan pendapatan yang kuat. “Sedangkan obligasi lebih memilih durasi panjang” kata dia.

Direktur Utama Samuel Aset Manajemen Agus Basuki Yanuar melihat, pertumbuhan ekonomi dunia masih bagus. Tahun lalu ekonomi tumbuh 3% dan tahun ini 3,3%. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diperkirakan membaik dari 4,9% tahun lalu ke 5,18% di tahun ini,” kata Agus.

Pertumbuhan ekonomi yang membaik itu membuat harga komoditas naik, sehingga ekspor Indonesia naik. Apalagi 65% ekspor berbasis komoditas. Tapi ada sejumlah risiko utama dari dalam negeri seperti penerimaan pajak yang tak tercapai, risiko intervensi kebijakan dan daya beli turun. “Jika ukurannya PDB, di kuartal dua dan tiga memang biasanya di bawah dari kuartal satu dan empat,” kata Agus.

Agus tetap optimistis melihat ekonomi Indonesia. “Tetap optimis dan waspada,” tandasnya. Dalam situasi seperti ini, sejumlah racikan portofolio bisa jadi pilihan (baca Harian KONTAN, edisi 9 Agustus 2017 halaman 1).

Investor saham, Irwan Ariston Napitupulu berpendapat, pertumbuhan ekonomi 5,01% hanya beda tipis dengan prediksi konsensus. Ini masih baik dibanding dengan negara lain. “Saat ini, PDB sudah bagus, rupiah bagus, dan politik juga bagus,” kata Irwan.

Dia menilai, pameran properti yang akan digelar dalam waktu dekat di JCC Senayan bisa menjadi salah satu indikator. Bila pameran properti disambut positif, kemungkinan besar sektor properti akan bangkit di semester II-2017. Dus, IHSG bisa tembus 6.000.

Saat ini, dana investasi Irwan hampir 100% ditempatkan pada instrumen saham, terutama sektor perbankan yang setahun ini bisa memberikan return sebesar 25%.

Bagi investor saham Prodjo Sunarjanto Sekar Pantjawati, penurunan PDB tersebut juga tidak banyak mengubah strategi dia dalam berinvestasi. Pasalnya, dia akan melihat langsung bagaimana sentimen yang ada dalam sektor usaha tertentu. Saat ini, porsi investasi Prodjo di saham mencapai sekitar 80%. Ia terutama masuk ke sektor perbankan dan tambang.

Source : kontan.co.id