PT KONTAK PERKASA –¬†Harga emas menanjak dan berpotensi mencoba menuju level US$ 1.300 per ons troi. Rabu (23/5) pukul 7.37 WIB, harga emas untuk pengiriman Agustus 2018 di Commodity Exchange berada di US$ 1.298,90 per ons troi. Ini adalah level harga tertinggi sejak 15 Mei lalu.

Meski menanjak, harga emas belum mampu melewati lagi level US$ 1.300 per ons troi. Kenaikan harga emas dalam dua hari terakhir terutama disebabkan oleh koreksi nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS). Indeks dollar terkoreksi dalam dua hari perdagangan berturut-turut setelah mencatat level tertinggi di tahun ini pada Senin (21/5).

Rampungnya pembicaraan dagang sementara China dan AS menyebabkan dollar yang sebelumnya menguat akhirnya terkoreksi. Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasan akan hasil sementara pembicaraan dagang AS-China. Setidaknya, panasnya suhu perang dagang sedikit mereda untuk sementara.

Soal Iran, pemerintah AS mengubah haluan. Jika sebelumnya AS menuntut Iran menghentikan program nuklir, AS kini meminta Iran untuk mundur dari Suriah jika tidak ingin terkena sanksi ekonomi. Pejabat Iran mengatakan, perubahan ini menunjukkan bahwa AS mencari perubahan rezim di Iran.

Gubernur Federal Reserve Philadelphia Patrick Harker mengatakan, kenaikan inflasi AS akan mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga dua kali, bahkan mungkin tiga kali tahun ini. Beberapa kabar terbaru ini menyebabkan munculnya sedikit kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi global. Alhasil, harga emas naik tipis.

Harga emas di pasar spot terus melorot. Pada Selasa (22/5) pukul 14.15 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2018 di Commodity Exchange turun ke US$ 1.288,70 per ons troi. Harga emas hari ini turun 0,16% jika dibandingkan dengan Senin (21/5), pada posisi US$ 1.290 per ons troi.

Koreksi harga emas terus berlanjut sejak pekan lalu karena dollar Amerika Serikat (AS) yang menguat. Penguatan dollar hari ini memang tampak lebih tertahan dibandingkan kemarin lantaran yield US Treasury AS juga perlahan turun meski masih di level 3%. Berakhirnya perundingan antara AS dan China dengan hasil yang cukup positif membuat kekhawatiran pasar mereda.

Kendati demikian, pelaku pasar masih mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve yang kemungkinan besar akan kembali dilakukan bulan depan. “Inflasi yang mengalami akselerasi berarti Fed harus menaikkan suku bunga dua atau mungkin tiga kali lagi tahun ini. Sesegera mungkin di bulan depan,” ujar Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker, seperti dikutip Reuters, Selasa (22/5).

Source : kontan.co.id