PT KONTAK PERKASA FUTURES – Emas mampu bertahan di tengah perbaikan indeks dollar Amerika Serikat (AS). Jumat (16/2), tren harga emas kontrak pengiriman April 2018 di Commodity Exchange masih menguat tipis 0,07% jadi US$ 1.356,20 per ons troi dari hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga si kuning sudah melesat 3,08%.

Tingkat inflasi AS di Januari yang naik jadi 0,5% sempat membuat emas koreksi. Tapi si kuning kembali naik setelah AS mengumumkan penjualan ritel turun.

Biro Sensus AS melaporkan penjualan ritel turun 0,3%. Ini di luar ekspektasi para ekonom, yang optimistis penjualan ritel naik 0,2%.

Menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf, hal ini membuat tingkat probabilitas kenaikan suku bunga The Federal Reserve turun. Sebelumnya, potensi kenaikan suku bunga AS lebih agresif semakin besar lantaran inflasi tahunan sudah tembus ke level 2,1%.

Tambah lagi, kini beredar kabar defisit anggaran AS bakal melebar. Ini lantaran belanja pemerintah di anggaran yang diajukan Presiden Donald Trump naik tinggi. “Pasar masih melihat ekonomi AS tidak bagus,” terang Alwi.

Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar menambahkan, pelaku pasar juga dilanda kekhawatiran terhadap pencapaian pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam di kuartal I-2018. Kenaikan inflasi yang disertai dengan penurunan penjualan ritel malah berpeluang menekan pertumbuhan ekonomi.

Apalagi, JP Morgan merevisi target tren pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2018 dari 3% menjadi 2,5%. “Ini yang membuat pelaku pasar memburu emas,” kata dia, kemarin. Katalis tersebut membuat emas berada dalam tren bullish.

Profit taking

Harga Emas diperkirakan mampu bertahan pada level US$ 1.365 per ons troi hingga kuartal I-2018. Terlebih, pada 4 Maret mendatang, Italia bakal melangsungkan Pemilu.

Hal ini diperkirakan membuat geopolitik di kawasan Eropa memanas. “Ketidakpastian akan memicu pergerakan harga. Harga emas ada potensi menembus US$ 1.400 per ons troi,” ujar Deddy.

Nah, di kuartal II-2018 pasar menanti pernyataan Gubernur The Fed yang baru Jerome Powell tentang arah kebijakan The Fed selanjutnya. Utamanya soal kemungkinan kenaikan suku bunga acuan AS sebanyak empat kali di tahun ini, lebih tinggi dari rencana The Fed semula.

Namun harga emas masih dibayangi potensi koreksi. Jika tren kenaikan harga sudah terlalu tinggi, potensi aksi profit taking pun membesar. Apalagi beberapa indikator teknikal sudah memberi sinyal pelemahan.

Secara teknikal, harga emas berada di atas moving average (MA) 50, MA 100 dan MA 200. Indikator relative strength index (RSI) di level 61. Sedangkan indikator moving average convergence divergence (MACD) masih bergulir di area positif.

Deddy pun memperkirakan hari ini aksi ambil untung bisa terjadi. Karena itu, harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.330–US$ 1.362 per ons troi. Sedang dalam sepekan ke depan, Alwi memperkirakan harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.335–US$ 1.375 per ons troi.

Tak kuat menanjak, harga emas kembali turun. Senin (19/2) pukul 7.50 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2018 di Commodity Exchange turun tipis 0,28% ke US$ 1.352,40 per ons troi ketimbang penutupan akhir pekan lalu pada US$ 1.356,20 per ons troi.

Harga emas tergerus indeks dollar yang menguat pada akhir pekan lalu. Tapi, kenaikan indeks dollar ini diperkirakan tidak akan bertahan lama.

“Kami memperkirakan dollar akan tetap melemah. Inilah kunci pergerakan emas selanjutnya,” kata Daniel Smith, director of commodity services Oxford Economics kepada Reuters.

Kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) pun bisa mendorong harga emas lebih tinggi. Jika ekspektasi inflasi naik lebih kencang, maka harga emas akan naik, terutama karena dollar AS melemah akibat laju inflasi,” kata dia.

Pekan lalu, harga emas mencatat kenaikan mingguan cukup tebal. Dalam lima hari perdagangan, harga emas menguat 3,08%.

Source : kontan.co.id