PT KONTAK PERKASA FUTURES BANDUNG – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memerah mengikuti jatuhnya pasar saham regional tersengat kinerja ekspor China yang mengecewakan, Kamis (13/10). Mengacu data RTI, indeks ditutup turun 0,45% atau 24,211 poin ke level 5.340,400.

Ada 192 saham bergerak turun, 104 saham bergerak naik, dan 86 saham stagnan. Volume perdagangan hari ini 8,39 miliar lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,53 triliun.

Delapan dari 10 indeks sektoral memerah. Sektor perdagangan turun 1,2&5, aneka industri turun 1,11%, dan konstruksi turun 1,02%.

Sementara, dua sektor yang menghijau yakni infrastruktur naik 0,36%, dan keuangan naik 0,05%.

Investor asing kembali melakukan aksi jualnya, turut membebani pergerakan indeks. Di pasar reguler, net sell asing Rp 463,743 miliar dan Rp 935,514 miliar keseluruhan perdagangan.

Saham-saham yang masuk top losers LQ45 antara lain; PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) turun 3,60% ke Rp 214, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) turun 3,32% ke Rp 9.475, dan PT Elnusa Tbk (ELSA) turun 2,85% ke Rp 478.

Saham-saham yang masuk top gainers LQ45 antara lain; PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) naik 3,88% ke Rp 10.700, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 3,86% ke Rp 5.375, dan PT United Tractors tbk (UNTR) naik 1,57% ke Rp 19.400.

Notulensi FOMC dan ekspor China

Sementara itu, pasar saham Asia hari ini jatuh setelah rilis notulensi pertemuan Federal Reserve yang mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) naik pada akhir tahun. IHSG. Di sisi lain, secara mengejutkan kinerja ekspor China turun sehingga menyeret saham Hong Kong ke level yang lebih rendah.

Mengutip Bloomberg, indeks MSCI Asia Pacific turun 0,9 % ke level 137,51 pada pukul 16:01 sore waktu Hong Kong, menuju penutupan terendah sejak 16 September.

Indeks Topix Jepang ditutup sedikit berubah, menghapus kenaikan sebelumnya sebanyak 0,9 % setelah yen naik terhadap dollar sehingga melemahnya permintaan untuk eksportir.

Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup turun 1,7 %, mengalami penurunan tertajam hampir dalam dua pekan. “Saham Asia jatuh dipicu prospek kenaikkan suku bunga AS dan perlambatan permintaan global menggerus ekspor China,” kata Andrew Sullivan, direktur perdagangan penjualan di Haitong International Securities Group Ltd di Hong Kong.

Pengiriman luar negeri China dalam yuan turun 5,6 % pada bulan September dari tahun sebelumnya dan menghentikan kenaikan beruntun enam bulannya, meleset dari perkiraan ekonom untuk kenaikan 2,5 %.

Source : kontan.co.id