PT KONTAK PERKASA – Indonesia masih menarik di mata dunia. Ini terlihat dari sejumlah akuisisi yang dilakukan pihak-pihak asing.

Belum sampai penutupan kuartal I-2017, sinyal finalisasi akuisisi Star Energy atas dua aset milik Chevron muncul. Aset tersebut merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang ada di Indonesia dan Filipina.

Dikabarkan jika perusahaan yang didirikan dan dikuasai Prajogo Pangestu melalui Grup Barito Pacific itu baru saja memperoleh kepastian memperoleh pinjaman hingga US$ 660 juta dari sejumlah bank untuk mendanai akuisisi tersebut. Pinjamannya merupakan pinjaman sindikasi yang berasal dari sejumlah bank seperti Credit Suisse, DBS, dan Maybank

Sebelumnya, Star Energy juga memperoleh pinjaman US$ 1,25 miliar dari sejumlah bank tidak lama setelah sale and purchase agreement aksi korporasi ini diteken mendekati akhir tahun lalu.

Dengan tambahan US$ 660 juta memunculkan sinyal akuisisi akan segera tuntas. Berdasarkan catatan kami, manajemen Star Energy menargetkan pelunasan transaksi dan serah terima aset berlangsung akhir kuartal I-2017.

Sebelumnya juga ada kabar akusisi PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) oleh FIC Properties Sdn Bhd yang merupakan anak usaha Federal Land Development Authority (Felda) mendekati tahap finalisasi. Akuisisi senilai US$ 505,4 juta itu hanya tinggal meneruskan urusan administrasi.

Jika dicermati, akuisisi yang ramai terjadi sejak awal tahun ini sejatinya merupakan rencana lama. BWPT malah butuh waktu menahun sebelum progress akuisisinya terlihat signifikan.

“Tapi closing yang baru ramai pada kuartal I ini mengindikasikan jika ketidakpastian sudah mulai berkurang,” ujar analis Koneksi Kapital Alfred Nainggolan kepada kami, Senin (13/2).

Jika selama ini Donald Trump selalu menjadi pesakitan adanya ketidakpastian, tapi sentimen itu sudah mulai berkurang. Perlahan ia mengeluarkan kebijakan dan data yang selama ini dinanti. Karena hal ini, investor sudah bisa mulai mengukur arah dan risiko investasinya.

Analis Panin Sekuritas Frederik Rasali bilang, ramainya akuisisi juga sering terjadi justru di saat kondisi ekonomi sedang kurang kondusif. Memang, sepanjang tahun lalu banyak distorsi ekonomi yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri.

Kondisi ini membuat sejumlah kinerja perusahaan tertekan. Sehingga, nilai perusahaan pun menurun dan saat inilah asing masuk karena melihat harganya sudah terdiskon. Apalagi, jika perusahaan yang jadi pihak pembeli ingin berekspansi dengan cepat, melalui cara anorganik seperti akuisisi.

Ekonomi tahun ini diprediksi lebih baik, tapi belum sepenuhnya maksimal. Artinya, masih ada peluang terdiskonnya nilai perusahaan berlanjut. Sehingga, tren akuisisi oleh asing tahun ini diprediksi akan lebih ramai.

“Apalagi jika mempertimbangkan fundamental Indonesia yang sangat menarik terutama di sektor riil,” jelas Frederik.

Source : kontan.co.id