KONTAK PERKASA FUTURES – Tingginya permintaan dari sektor otomotif masih menjadi pendorong naiknya harga paladium sepanjang semester satu 2017 ini. Analis pun menilai kans harga paladium terbang tinggi masih terbuka lebar.

Mengutip Bloomberg, Selasa (4/7) pukul 15.39 WIB harga paladium kontrak pengiriman September 2017 di New York Mercantile Exchange melambung 1,18% ke level US$ 852,35 per ons troi dibanding hari sebelumnya. Sementara sepanjang semester satu 2017 harga sudah terbang 22,07%.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis PT Central Capital Futures menjelaskan topangan utama dari kenaikan harga paladium datang dari sisi otomotif. Hal ini bisa terjadi karena berkaca dari sektor manufaktur AS dan China yang terus menggeliat. Artinya ada permintaan di pasar yang positif mendukung kenaikan harga.

Dilaporkan stok paladium di New York Mercantile Exchange awal Juni 2017 jatuh ke level terendahnya sejak 2014 di 42.450 ons troi. Belum lagi kenaikan yang didulang harga emas jelas menjadi tambahan tenaga bagi harga logam mulia lainnya termasuk paladium. “Memang performanya paling baik karena fundamental yang kuat,” tutur Wahyu.

Wajar pada 22 Juni 2017 lalu harga paladium menembus level tertingginya setidaknya sejak Juni 2016 di US$ 880,50 per ons troi. Bukan tanpa alasan, pada kuartal satu 2017 penjualan mobil China tumbuh 7% atau yang tertinggi sejak 2014 lalu dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Peluang harga naik lagi masih ada karena tren masih bullish apalagi diperkirakan pasokan masih akan kering,” ujar Wahyu. Memang diduga dengan permintaan yang tinggi akan terjadi defisit pasokan paladium sepanjang tahun 2017 ini. TDS menduga defisit pasokan paladium akan mencapai 1,2 juta ons troi atau naik dua kali lipat dibanding 2016 lalu. Sementara World Gold Council memperkirakan defisit sebesar 729.000 ons troi di tahun ini.

Dengan perkiraan fundamental yang akan kekurangan pasokan tersebut kecil peluang harga paladium kembali menyentuh level terendahnya sejak Desember 2016 yang disentuh pada 3 Januari 2017 lalu di US$ 711,75 per ons troi. “Itu terjadi di awal tahun saat ekonomi China diperkirakan melambat dan sekarang justru manufakturnya masih cukup bagus,” jelas Wahyu.

Source : kontan.co.id