PT KONTAK PERKASA – Menariknya fundamental sejumlah emiten membuat harga sahamnya terus meninggi. Bahkan, ada sejumlah saham yang sejatinya sudah layak stock split karena saking tinggi harganya.

Misal, saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Harga saham emiten rokok tersebut mencapai Rp 63.750 per saham. Jauh diatas harga saham pesaingnya, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Level harga HMSP beberapa waktu silam juga memang sempat tinggi. Tapi, pertengahan tahun lalu perseroan melakukan stock split dengan rasio 1:4.

Banyak faktor yang menentukan terjadinya stock split. Harga merupakan indikator paling mudah untuk menilai saham sudah layak stock split atau tidak. Sejumlah analis menilai, harga saham yang sudah mendekati Rp 50.000 sejatinya sudah layak untuk melakukan stock split.

Analis Panin Sekuritas Frederik Rasali tak memungkiri hal ini. Tapi ada faktor lain selain soal harga yang menjadi alasan melakukan stock split.

“Intinya, ketika transaksi rendah tapi permintaan di pasar banyak, stock split bisa jadi pilihan,” ujar analis Panin Sekuritas Frederik Rasali kepada KONTAN belum lama ini. Dari sinilah urgensi mulai muncul.

Malah ada sejumlah saham yang lebih dulu stock split sebelum harganya menyentuh level Rp 50.000 per saham. Contohnya, saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR).

Sebelum stock split, harga saham MYOR berada sedikit di atas Rp 38.000 per saham. Tapi, Agustus tahun lalu perseroan memutuskan untuk mengeksekusi stock split. Setelah itu, harga sahamnya lebih murah, rata-rata bergerak pada kisaran level Rp 1.500.

Dengan kata lain, urgensi untuk stock split tidak melulu mengacu pada level harga. Stock split juga tergantung dari internal perusahaan.

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) contohnya. Saham tersebut saat ini berada pada level Rp 42.000 per saham. Namun, sejauh ini belum ada sinyal dari perseroan untuk stock split.

“Kalau ada rencana (stock split), pasti kami informasikan,” ujar Direktur & Sekretaris Perusahaan UNVR Sancoyo Antarikso.

Source : kontan.co.id