PT KONTAK PERKASA FUTURES – Terombang-ambing berbagai sentimen eksternal, rupiah kembali terkoreksi hampir 1% di penutupan perdagangan Senin (12/11).

Di pasar spot, mata uang indonesia melemah 0,97% ke level Rp 14.820 per dollar Amerika Serikat (AS). Sedangkan dalam data kurs tengah versi Jakarta Interbank Spot Dollar (JISDOR), turun sebesar 0,79% menjadi Rp 14.747 per dollar AS.

Penguatan dollar AS yang terlihat di indeks dollar hingga pukul 17.02 WIB sebesar 0,56% sejak penutupan pekan lalu juga turut menjadi sentimen terberat.

Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan, tingginya indeks dollar memicu mata uang negara Paman Sam tersebut menguat terhadap mata uang regional.

Salah satu pemicu investor kembali membenamkan investasi di dollar AS adalah kekhawatiran pasar akan perang dagang antara AS dan China. “Investor tadinya terlalu cepat menyimpulkan bahwa trade war segera usai setelah ada rencana perundingan antarkeduanya. Namun, kini tersadar, bahwa tak akan secepat itu,” kata Satria.

Presiden AS Donald Trump rencananya akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xin Jinping di akhir November dalam KTT G-20.

Menurutnya, penguatan yang cukup drastis pada rupiah lalu didorong oleh kondisi fundamental domestik yang dihujani data positif, sebelum akhirnya keluar data defisit neraca berjalan yang masih bengkak 3,37% dari Produk Domestik Bruto.

“Harga minyak yang naik drastis juga berpengaruh. Itu karena negara-negara OPEC mau menurunkan produksi mereka,” lanjut Satria.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan selain permasalahan perekonomian Tiongkok yang terganggu oleh trade war, rencana bank sentral AS yang akan menaikkan suku bunganya di akhir tahun sebesar 25 basis poin turut menguatkan indeks dollar.

“Masalah perbatasan Irlandia yang merupakan perbatasan antara Uni Eropa dan Inggris masih sampai bergelut hingga Maret 2019. Rupiah akan tergopoh-gopoh bila sentimen eksternal seperti ini tidak menentu,” jelas Ibrahim. Bukan hanya itu, persoalan defisit anggaran Italia juga masih membayangi pergerakkan rupiah.

Pelemahan rupiah diprediksi akan tetap terjadi hingga rilis data industri China yang ekspektasinya mencapai 5,8% pada Rabu mendatang (14/11). Tidak hanya itu, akan ada data pengangguran di AS yang diperkirakan akan bertambah sehingga ada harapan rupiah dapat menguat kembali.

Menurut Satria, koreksi teknikal yang terjadi pada awal perdagangan pekan ini terbilang wajar.

“Kalau dilihat dari fundamental rupiah sesuai di level-level seperti sekarang,” lanjutnya. Ia memproyeksikan rupiah berada di rentang Rp 14.720-Rp 14.820 per dollar AS. Sedangkan Ibrahim memprediksikan rupiah berpotensi melemah lagi di level Rp 14.740-Rp 14.926 per dollar AS.

Source : kontan.co.id