KONTAK PERKASA FUTURES – Kurs rupiah kembali melemah di hadapan dollar Amerika Serikat jelang Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data inflasi, Rabu 1 Juni 2016.

Berdasarkan data dari Bloomberg, di spot market rupiah menjadi Rp 13.675 per dollar AS atau menurun 0,20% dari sebelumnya Rp 13.648 per dollar AS pukul 10.05 WIB

Senada, pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar (JISDOR) rupiah menjadi Rp 13.671 per dollar AS atau melemah 0,41% dari sebelumnya yaitu Rp 13.615 per dollar AS.

Hari ini Badan Pusat Statistik akan mengumumkan angka inflasi yang sepertinya masih rendah. BI perkirakan inflasi sebesar 0,19% mom. Hal ini lebih rendah jika dibandingkan inflasi pada menjelang bulan puasa pada tahun-tahun sebelumnya.

“Potensi inflasi rendah karena diperkirakan akan terjadi deflasi pada Beras yang mengurangi tekanan inflasi pada bahan makanan karena mulai naiknya harga bawang dan daging,” ujar Lana Soelistianongsih, Ekonom Samuel Sekuritas.

Meskipun harga berbagai komoditas pangan mulai naik, namun panen padi menjadikan harga beras turun dan hasilnya terjadi kenaikan harga bahan makanan lainnya.

Survey BI menyatakan bahwa indeks keyakinan konsumen masih di bawah 100 yang berarti konsumen masih pesimis dan menahan diri melakukan konsumsi jadi menekan kenaikan harga. Lana memperkirakan, inflasi Mei akan mencapai 0,24% mom atau 3,49% yoy.

Sedangkan sentimen dari luar datang dari data consumer spending AS untuk bulan April tercatat naik 1%, tertinggi sejak Agustus 2009. Kenaikan ini didukung dengan naiknya personal income yang naik sebesar 0,4% mom.

Lana memperkirakan nilai tukar rupiah akan terus melemah menuju kisaran Rp 13.650 – Rp 13.680 per dollar AS dengan sentimen turunnya harga minyak mentah, meskipun tekanan beli dari dalam negeri untuk pembayaran utang luar negeri, repatriasi aset yang jatuh tempo pada bulan Juni menurun.

Source : kontan.co.id