PT KONTAK PERKASA – Harga salah satu logam mulia yakni perak kembali menguat. Naiknya harga perak disebabkan pelemahan dollar AS dan juga penundaan keputusan Brexit.

Mengutip Bloomberg pukul 17.55 WIB, Jumat (15/3), harga perak kontrak pengiriman Mei 2019 berada di level US$ 15.36 per ons troi. Angka ini naik 1,25% dari harga sebelumnya US$ 15,17 per ons troi. Sementara dalam sepekan, harga perak juga terangkat 0,65%.

Senior Research dan Analis Asia Trade Point Futures, Cahyo Dewanto mengatakan, penguatan harga perak dipengaruhi tiga faktor. Pertama, pelemahan dollar Amerika Serikat (AS) karena turunnya data core dudable goods order  AS. Pelemahan dollar AS turut mengerek harga logam termasuk perak.

Faktor kedua, karena krisis Brexit yang mereda. Cahyo bilang, setelah Parlemen Uni Eropa memutuskan menunda keputusan Brexit hingga Juni 2019, kekhawatiran pasar menurun. Sebelumnya, anggota parlemen Inggris pada Rabu (13/3) menolak skenario Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan. Ini membuka jalan bagi pemungutan suara sebagai upaya menunda Brexit setidaknya hingga akhir Juni 2019.

“Risiko pasar menurun maka permintaan logam mulia sebagai aset safe haven juga menurun,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (15/3).

Ketiga, faktor demo di pertambangan Afrika Selatan. Kejadian ini membuat pasokan dan pengiriman perak tersendat sehingga harga mampu menguat.

Secara teknikal, harga perak masih akan melanjutkan penguatan. Karena harga berada di atas garis moving average (MA) 50, 100 dan 200. Kemudian indikator stochastic dan RSI juga menunjukkan penguatan, begitu halnya dengan indikator MACD yang naik ke area 12,26 dan ADX yang naik ke area 14.

Awal pekan depan, Cahyo memperkirakan harga perak akan bergerak di rentang US$ 15.15 sampai US$ 15.40 per ons troi. Dalam sepekan, harga akan bergerak di rentang US$ 14.00 sampai US$ 17.00 per ons troi. Dia pun merekomendasikan buy.

Harga logam dasar, termasuk nikel terkoreksi karena China memangkas tarif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk manufaktur dan sektor lainnya pada April mendatang.

Mengutip Bloomberg, harga nikel kontrak tiga bulanan di bursa London Metal Exchange (LME), Kamis (14/3) tercatat melemah 2,42% ke US$ 12.890 per metrik ton. Dalam sepekan harga nikel melemah 1,52%.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, harga logam dasar secara umum melemah karena kabar dari China mengecewakan pelaku pasar.

Dalam Shanghai Futures Exchange sebagian besar harga logam dasar turun selama sesi perdagangan pagi, Jumat (15/3).

Wahyu mengutip pemberitaan global menyebutkan, penurunan harga logam dasar tersebut karena pelaku pasar merespons baik berita China akan memangkas tarif PPN untuk manufaktur dan sektor lainnya.

Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan bahwa tarif PPN untuk sektor manufaktur akan dipotong menjadi 13% dari 16% pada bulan depan. “Harga logam dasar di SHE memiliki tingkat PPN 16% dan sudah dihargai, jadi setelah diumumkan pemotongan PPN yang lebih cepat, harga logam dasar termasuk nikel jadi tertekan,” kata Wahyu, Jumat (15/3).

Namun, Wahyu menilai, koreksi harga nikel saat ini termasuk wajar karena sudah naik signifikan selama Februari 2019 akibat pasokan dan permintaan ketat dan cadangan menurun.

Ke depan harga nikel masih memiliki ruang untuk rebound karena didukung membaiknya fundamental. Sedangkan, dalam jangka menengah, Wahyu memproyeksikan harga nikel masih menguat seiring pelemahan komoditas terkait karena perang dagang dan penguatan dollar AS.

“Jadi short term wajar koreksi, untuk jangka menengah harga nikel masih bagus, apalagi untuk jangka panjang masih menjanjikan,” kata Wahyu.

Untuk sepekan depan, Wahyu memproyeksikan harga nikel berada di rentang US$ 12.600 per metrik ton hingga US$ 13.500 per metrik ton. Wahyu merekomendasikan buy on weakness untuk nikel.

Source : kontan.co.id