Bursa AS berakhir dengan wajah beraneka ragam pada transaksi perdagangan pada hari Rabu (7/9). Data yang dihimpun oleh CNBC menunjukkan, pada pukul 16.00 waktu daerah New York, indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebesar 0,06% menjadi 18.526,14. Saham Wal Mart menorehkan penurunan paling besar. Sedangkan saham Caterpillar adalah saham dengan kenaikan tertinggi.

KONTAK PERKASA FUTURES – Di sisi lain, indeks S&P 500 menurun sebesar 0,02% menjadi 2.186,15. Sektor barang konsumen mencatatkan penurunan paling besar. Sebaliknya, sektor energi adalah sektor dengan kenaikan tertinggi.

Adapun indeks Nasdaq meningkat 0,15% menjadi 5.283,93.

Terdapat sekitar sembilan saham yang meningkat untuk setiap lima saham yang menurun di New York Stock Exchange. Volume transaksi jual beli semalam melibatkan 813,51 juta saham.

Pergerakan beraneka ragam sejumlah indeks acuan AS terjadi sesudah The Federal Reserve merilis Beige Book.

“Ini rasanya seperti saat tenang sebelum datangnya badai menjelang pertemuan The Fed yang berikutnya. Pelaku pasar mulai membicarakan hal tersebut,” terang Mike Bailey, director of research FBB Capital Partners.

Beige Book adalah merupakan indikator penting untuk perekonomian AS. Bahkan bisa dikatakan Beige Book merupakan alat yang paling utama bagi The Fed dalam memutuskan kebijakan-kebijakan penting.

Nah, dalam Beige Book yang diterbitkan Rabu (7/9), The Federal Reserve menyatakan, perekonomian negara AS tumbuh moderat pada bulan Juli dan Agustus. Sementara itu, ada sedikit pertanda, tekanan gaji yang dirasakan oleh tenaga kerja ahli.

Didalam laporan yang tertulis di Beige Book, The Fed juga melihat, kebanyakan dari 12 cabang bank sentral di AS melaporkan terdapat tekanan terhadap tingkat upah walau tipis. Diprediksi, tekanan itu akan tetap berlangsung dalam waktu beberapa bulan ke depan.

Minimnya tekanan yang berasal dari sisi upah sudah menjadi senjata bagi The Fed untuk mengerek suku bunga acuannya itu. Laporan ini juga berkaitan dengan data yang diterbitkan sebelumnya di mana lapangan kerja juga menembus level rekor pada bulan Juli. Hanya saja, para pengusaha merasa kesulitan mendapatkan pekerja terampil yang sesuai dengan posisi yang sudah ada.

Sementara itu, secara keseluruhan, naiknya harga barang masih terbilang cukup tipis dan tingkat belanja konsumen tidak banyak mencatatkan adanya perubahan di mayoritas negara bagian.

The Fed mengungkapkan, level inflasi masih berada di bawah target sebesar 2% yang dicanangkan The Fed dalam jangka empat tahun terakhir. Para penentu kebijakan tidak mau mengerek suku bunga hingga terlihat adanya kenaikan inflasi.

Source : kontan.co.id