KONTAK PERKASA FUTURES – Pasar obligasi kembali ramai. Di kuartal II-2016, sejumlah perusahaan siap mencari pendanaan dengan merilis surat utang. Pasar obligasi domestik diperkirakan semakin bergairah pada semester kedua nanti.

Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per akhir Mei 2016, total surat utang yang masuk dalam rencana penerbitan mencapai Rp 22,6 triliun. Ini termasuk penawaran umum berkelanjutan dan penerbitan sukuk.

Jika melihat periode sama tahun lalu, nilai emisi tahun ini lebih tinggi. Setahun lalu, nilai emisi obligasi tercatat Rp 20,09 triliun. Salah satu emiten yang mencari dana lewat obligasi adalah PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Emiten konstruksi pelat merah ini merilis obligasi Rp 2 triliun.

Obligasi itu bertenor tiga tahun dengan bunga tetap 9,25%. Aksi ini adalah bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) dengan target total Rp 5 triliun.

Tunggul Rajagukguk, Direktur Keuangan WSKT, mengatakan, minat investor untuk menyerap obligasi cukup besar. “Ada kelebihan permintaan obligasi (oversubscribe) lebih dari dua kali lipat,” ujar dia kepada KONTAN, kemarin (7/6).

Emiten lain yang siap merilis obligasi adalah PT PP Properti Tbk (PPRO). Emiten ini menerbitkan obligasi Rp 600 miliar dalam dua seri. PPRO akan memakai dana obligasi untuk mengembangkan anak usaha properti, modal kerja dan refinancing.

Selain untuk ekspansi, emiten juga merilis obligasi untuk membayar utang. Misalnya PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) yang bakal merilis Obligasi Berkelanjutan II dengan target Rp 5 triliun. Di tahap pertama, jumlah pokok yang akan terbit maksimal Rp 600 miliar. Adapun tenornya lima tahun. Nanti, dana obligasi ini akan digunakan untuk melunasi sebagian utang anak usaha TBIG.

Tak mau ketinggalan, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) juga berniat menerbitkan obligasi untuk melunasi utangnya. “Nilai penerbitannya Rp 1,5 triliun. Ada obligasi konvensional dan sukuk,” ujar Sjambiri Loe, Direktur Keuangan AISA, kepada KONTAN, kemarin.

AISA akan menjelaskan profil obligasi saat public expose pekan depan. Tapi Sjambirie memastikan, hampir 100% dana obligasi akan dipakai untuk refinancing sejumlah utang jatuh tempo.

Analis Capital Asset Management Desmon Silitonga menilai, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya minat penerbitan obligasi. Antara lain penurunan BI rate dan tingkat inflasi yang masih terjaga. Bagi emiten, hal tersebut menjadi indikasi positif untuk mendapatkan kupon obligasi yang kompetitif.

Bagi investor, bunga deposito yang kian menciut membuat pasar obligasi lebih menarik sebagai sarana investasi. Emiten juga mulai gencar merilis obligasi karena tahun ini jatuh tempo obligasi cukup besar. Sehingga, kupon yang lebih murah digunakan untuk refinancing.

Masa jatuh tempo obligasi di periode kuartal kedua dan kuartal ketiga tahun ini cukup besar, sehingga potensi penerbitan obligasi baru pada periode tersebut lebih tinggi.

Desmon bilang, tren penurunan suku bunga membuat kupon obligasi relatif atraktif. Momentum lebaran juga membuat banyak perusahaan mengerek kapasitas produksi. “Sehingga banyak yang mencari dana dari surat utang,” kata Desmon.

Analis First Asia Capital David Sutyanto menilai, saat ini penghimpunan dana dari pasar surat utang lebih besar. Menurut dia, obligasi dari sektor infrastruktur cukup menarik bagi investor. “Meski banyak kupon single digit, bagi investor tetap menarik ketimbang pasar uang,” ujar dia.

Jika kebijakan tax amnesty berjalan lancar, menurut David, pasar surat utang akan membesar. Pada semester kedua nanti, David memperkirakan arus dana asing atau capital inflow akan lebih tinggi mengalir ke pasar Indonesia. Aliran dana asing tersebut juga bakal merangsek pasar obligasi.

Source : kontan.co.id