KONTAK PERKASA FUTURES – Pasar saham Amerika Serikat di Wall Street ditutup rebound, Rabu (27/9). Dow Jones mengakhiri koreksi yang sudah terjadi empat hari terakhir.

Mengutip CNBC, Indeks Dow Jones naik 56,39 poin atau 0,25% ke level 22.340,71. Lonjakan saham perbankan menyokong indeks.

Kemudian, indeks S&P 500 juga menguat 10,20 poin atau 0,41% ke level 2.507,04, dan Nasdaq naik 73,10 poin atau setara 1,15% ke posisi 6.453,26.

Investor menyukai rencana pajak yang disusun pemerintah AS. House Freedom Caucus, kelompok anggota parlemen konservatif GOP, mendukung rencana reformasi pajak Trump yang dijabarkan pada Rabu. Rencana tersebut mencakup pajak lebih ringan yaitu hanya 20% bagi perusahaan Amerika yang membawa pulang dana mereka di luar negeri alias repatriasi.

“Seluruh sentimen pasar yang kuat karena ekspektasi terhadap keringanan pajak,” kata Peter Cardillo, Kepala ekonom First Standard Financial seperti dilansir CNBC.

Pasar juga optimistis terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Selasa, Ketua The Fed Janet Yellen mengatakan bank sentral harus waspada untuk bergerak terlalu lambat. Ia mendorong untuk terus memperketat tingkat suku bunga AS, sekalipun mengakui kemungkinan ada sesuatu yang menahan inflasi lebih rendah dari perkiraan. Rabu, indeks dolar AS diperdagangkan naik 0,37% menjadi 93,35. Ini mendekati level tertinggi sejak 23 Agustus.

Saham-saham sektor teknologi yang tercatat di bursa Amerika Serikat (AS) mulai pulih dari penurunan hari sebelumnya. Selasa (26/9), indeks Nasdaq menguat 0,15% ke level 6.380,16. Indeks S&P 500 naik tipis 0,01%. Sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,05% ke 22.284,32.

Indeks Dow Jones terhenti dari kenaikan empat hari berturut-turut. Pada indeks S&P 500, sektor telekomunikasi menjadi pemberat kenaikan. “Investor sedang hati-hati, beberapa profit taking dan juga menunggu langkah presiden untuk menyelesaikan subsidi kesehatan dan reformasi pajak,” kata Quincy Krosby, chief market strategist Prudential Financial kepada CNBC.

Dia menambahkan, investor kemungkinan baru mulai berburu lagi ketika musim laporan keuangan bulan depan.

Gubernur Federal Reserve Janet Yellen mengatakan, the Fed kemungkinan terlalu melebihkan kekuatan pasar tenaga kerja dan tingkat inflasi. Dia mengindikasikan bahwa kebijakan moneter akan lebih akomodatif ketimbang harapan sebelumnya.

Meski demikian, orang nomor satu di bank sentral ini mengatakan, kebutuhan penyesuaian secara bertahap akan semakin kuat. Jika bank sentral terlalu lama dalam menyesuaikan kebijakan moneter, maka stabilitas finansial bisa terganggu.

Thierry Albert Wizman, global interest rate and currencies strategist Macquarie mengatakan, Yellen mulai terdengar hawkish. “Inilah hal utamanya,” kata dia.

Source : kontan.co.id