KONTAK PERKASA FUTURESNotulensi Federal Open Market Committee (FOMC) yang bernada hawkish menyungkurkan rupiah ke posisi terburuknya sejak Februari 2016. Kemarin, rupiah di pasar spot turun 0,49% ke level Rp 13.685 per dollar Amerika Serikat (AS). Versi kurs tengah Bank Indonesia, rupiah turun 0,61% menjadi Rp 13.665 per dollar AS.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri bilang, pelemahan didorong oleh respons pasar atas rapat FOMC yang mengonfirmasi kenaikan suku bunga terjadi bulan depan. Selain itu, The Fed optimis, kebijakan reformasi pajak akan berdampak baik terhadap ekonomi AS. Alhasil, investor memburu dollar AS. “Sentimen dari AS membuat mayoritas mata uang global melemah, termasuk rupiah,” kata Reny.

Analis Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto menambahkan, data kredit perbankan Indonesia yang rilis hari ini mampu menahan rupiah. Proyeksi dia, rupiah bergerak di Rp 13.640-Rp 13.660 per dollar AS. Sedangkan prediksi Reny, rupiah berada  dalam rentang Rp 13.630-Rp 13698 per dollar AS.

Kurs rupiah terhadap dollar AS diperkirakan kembali mengalami pelemahan walau cenderung terbatas pada perdagangan Jum’at (23/2). Hal ini lantaran tekanan eksternal yang mempengaruhi pergerakan rupiah belum mereda.

Analis Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto mengatakan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh sentimen hasil pertemuan Federal Open Market Committee, Rabu (21/2) lalu waktu setempat. Melalui pertemuan tersebut, The Federal Reserve menyatakan akan menaikan suku bunga acuan AS pada bulan Maret nanti.

Ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate menjadi selain membuat dollar AS menguat, nilai imbal hasil US Treasury juga ikut meningkat akhir-akhir ini. Muaranya, posisi rupiah beserta mata uang negara-negara lainnya rentan terhadap koreksi.

Dari dalam negeri, Andri mengatakan terdapat data pertumbuhan kredit perbankan yang akan dirilis besok. Data tersebut diharapkan mampu menjaga pergerakan rupiah agar tidak terkoreksi lebih dalam. “Soalnya di sisa pekan ini rupiah masih sulit untuk menemukan momentum penguatannya,” ujarnya.

Prediksi Andri, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 13.640—Rp 13.660 per dollar AS.

Sebagai informasi, kurs rupiah di pasar spot alami pelemahan 0,49% ke level Rp 13.685 per dollar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini (22/2). Hasil ini pun menjadi rekor koreksi terburuk sejak 13 Februari lalu.

Walau belakangan ini kerap terkoreksi, Andri memandang belum saatnya BI melakukan intervensi terhadap rupiah mengingat pelemahan yang terjadi masih cukup wajar. “Di sisi lain pelemahan ini menjadi katalis positif untuk menggenjot kegiatan ekspor,” katanya.

Source : kontan.co.id