KontakPerkasa Futures – Minyak ditransaksikan mendekati US$ 59 per barel pasca penurunan selama dua hari terakhir jelang rilis data pemerintah AS yang diperkirakan menunjukkan stok minyak kembali memperpanjang rekor tertingginya. Minyak berjangka sedikit berubah di New York pasca jatuh sebesar 0,4 persen pada Senin kemarin. Persediaan minyak mentah mungkin meningkat 1,2 juta barel pada pekan lalu, kenaikan mingguan ke-17, menurut survei Bloomberg sebelum rilis laporan dari Energy Information Administration, Rabu. EOG Resources Inc., produsen minyak serpih terbesar, melaporkan kerugian kuartal pertama pasca mengambil langkah-langkah untuk menghentikan pertumbuhan output menyusul anjloknya harga. Rebound minyak minyak dari level terendah dalam enam tahun terakhir di bulan Maret telah goyah di tengah spekulasi akibat banjir pasokan global yang mendorong harga anjlok tajam tahun lalu akan bertahan. Stok minyak meningkat di AS, konsumen minyak terbesar di dunia, bahkan sebagai pengebor telah mengurangi jumlah rig aktif ke level terendah sejak September 2010 lalu. Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni di $58,83 per barel di perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange, turun 10 sen, pukul 13:22 waktu Sydney. Kontrak turun 22 sen menjadi $58,93 pada hari Senin. Volume semua berjangka yang diperdagangkan sebesar 81 persen di bawah moving average 100 hari. Harga minyak WTI telah naik sekitar 10 persen tahun ini. (izr) Sumber: Bloomberg