PT KONTAK PERKASA FUTURES BANDUNG – Pasar saham Amerika Serikat (AS) tadi malam (20/10) berakhir di zona merah. Mengutip data CNBC, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 40,27 poin atau 0,22% menjadi 18.162,35. Saham Travelers mencatatkan penurunan terbesar dan American Express menghuni posisi top gainers.

Sedangkan indeks S&P 500 turun 2,95 poin atau 0,14% menjadi 2.141,34. Sektor telekomunikasi mencatatkan penurunan terdalam di antara 10 sektor lain. Sedangkan sektor kesehatan merupakan satu-satunya sektor yang berhasil naik.

Adapun indeks Nasdaq turun 4,58 poin atau 0,09% menjadi 5.241,83.

Dalam setiap empat saham yang turun, terdapat tiga saham yang naik di New York Stock Exchange. Volume transaksi perdagangan tadi malam melibatkan 777,17 juta miliar dan volume transaksi saham gabungan mencapai 3,267 miliar saham.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan pasar saham tertekan. Pertama, anjloknya harga minyak dunia. Sekadar informasi, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengantaran November turun 2,27% menjadi US$ 50,43 per barel. Sehari sebelumnya, harga minyak bertengger di posisi tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Penurunan harga minyak terjadi akibat aksi profit taking.

“Kami rasa saat ini harga minyak berada di kisaran US$ 40 hingga US$ 60 per barel. Kami tidak melihat adanya katalis bagi minyak untuk bergerak lebih tinggi,” jelas Jon Adams, senior investment strategist BMO Global Asset Management.

Kedua, investor juga mengamati data ekonomi AS terkini. Sekadar tambahan saja, penjualan rumah AS naik 3,2% pada bulan lalu menjadi 5,47 juta. Ini posisi tertinggi sejak Juni lalu.

Adapun data pengajuan klaim pengangguran mingguan naik 13.000 menjadi 260.000. Meski begitu, posisi pengajuan klaim pengangguran di bawah angka 300.000 ini sudah berlangsung selama 85 pekan beruntun.

Ketiga, investor juga mengamati perkembangan di Eropa, seiring kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) yang mempertahankan suku bunga acuannya. Adanya masalah angka pengangguran yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang lemah, dan inflasi yang benar-benar rendah, ECB harus menggelontorkan stimulus ekstra ke depannya, memangkas suku bunga acuan ke zona negatif, dan menekan biaya kredit ke level terendah agar bisa mengerek pertumbuhan.

Source : kontan.co.id