PT KONTAK PERKASA – Spekulasi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) di akhir tahun menjadi sentimen utama penurunan harga emas. Tapi, harga emas masih punya peluang naik.

Mengutip data Bloomberg, Jumat (9/11), harga untuk emas pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange melemah hingga 1,30% menjadi US$ 1.209,65 per ons troi dari yang sebelumnya US$ 1.225,10 per ons troi. Bahkan selama sepekan, harga dari emas spot menurun drastis sebanyak 1,94% dari yang sebelumnya US$ 1.233,30 per ons troi.

Sementara indeks dolar AS pada perdagangan Jumat (9/11) berada di level tertingginya di Rp 14.635 dan level terendahnya di Rp 14.545.

Analis Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra mengatakan bahwa sentimen utama yang mempengaruhi turunnya harga untuk emas spot adalah kenaikan suku bunga secara bertahap di AS serta penguatan bursa saham dan perang dagang.

“Penurunan harga emas pekan ini karena bursa saham mulai stabil ditambah pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral di AS yang konsisten menaikkan suku bunga,” ucap Putu kepada Kontan.co.id, Jumat (9/11).

Pada rapat pekan ini, Federal Reserve memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 2%-2,25%. Dengan kebijakan tersebut, mata uang dollar AS menguat. “Jika dollar AS menguat, harga untuk emas cenderung lemah. Hal ini karena emas spot berdenominasi dollar AS,” sebut Putu.

Putu memperkirakan, pergerakan emas spot masih akan terkoreksi. Jika perang dagang Amerika Serikat dan China tidak berlanjut, maka ada peluang harga emas global menguat tajam.

Senada dengan Putu, Analis Asia Trade Points Futures, Deddy Yusuf Siregar juga melihat bahwa kenaikan suku bunga menjadi beban emas spot. “Indeks dollar yang menguat membuat pelaku pasar melirik untuk mengoleksi dollar AS ketimbang emas,” tandasnya.

Disamping itu, Deddy juga menilai bahwa hasil dari pemilu sela AS yang memenangkan Demokrat di DPR menjadi penyebab harga emas spot turun. Pasalnya ekspektasi pasar agar partai Demokrat menang terjawab. “Jadi penurunan harga emas spot sepertinya wajar. Harga pun masih akan naik lagi,” tuturnya.

Menurut Deddy, potensi penguatan harga unruk emas bisa terjadi apabila perang dagang mereda. Selain itu, pemburuan emas akan tertuju pada anggaran Italia yang menjadi isu. “Kalau dilihat anggaran Italia ditolak Uni Eropa dan diminta untuk membuat proposal hingga 30 November nanti. Nah, pasar akan memperhatikan di tengah pergerakan mata uang eropa ini, sehingga tertuju memburu emas,” sebut Deddy.

Permintaan emas juga akan meningkat pada akhir tahun ini. Secara siklusnya, harga produk ini selalu naik pada saat akhir tahun, hal ini karena dipicu perayaan tahun baru imlek. Deddy pun memproyeksi dalam sepekan harga emas akan berada di rentang US$ 1.207 per ons troi sampai US$ 1.220 per ons troi. Sementara akhir tahun berkisar US$ 1.200 per ons troi sampai US$ 1.245 per ons troi.

“Rekomendasi sepekan dan akhir tahun layak beli selama harga emas spot berada di rentang US$ 1.200-an per ons troi,” ungkapnya.

Secara teknikal Deddy menganalisis harga emas berada di bawah moving average (MA) MA 50, MA 100, dan MA 200 dan mengindikasikan harga berpotensi lemah. Sementara stochastic berada di area 58 yang mengindikasikan penguatan harga.

Indikator RSI di level 44 menunjukkan potensi pelemahan harga. Sebaliknya MACD berada di area positif dan harga cenderung bisa naik. Secara keseluruhan, harga emas hingga akhir tahun bisa naik.

Senada dengan Deddy, Putu juga memproyeksi harga emas cenderung naik. Pekan depan, Putu memperkirakan harga emas spot akan berada di rentang US$ 1.202 per ons troi hingga US$ 1.233 per ons troi. Selanjutnya pada akhir tahun, harga emas diproyeksi berkisar US$ 1.250 per ons troi hingga US$ 1.260 per ons troi. “Rekomendasinya beli selama harga emas tidak menembus harga di bawah US$ 1.200 per ons troi,” tutupnya.

Source : kontan.co.id