KONTAK PERKASA FUTURES – Tahun ini, ada 33 potensi emiten yang melakukan aksi korporasi dengan pemanis waran. Beberapa di antaranya adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dan PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM).

Mungkin, Anda sudah tahu, emiten biasanya menerbitkan waran sebagai pemanis agar investor tertarik mengambil saham yang mereka lepas ke pasar, baik saham perdana maupun saham baru. Nantinya, waran itu bisa ditebus menjadi saham.

Nah, potensi buat Anda yang ingin memiliki saham suatu emiten dengan harga murah, Anda bisa coba memburu waran. Lantaran harga tebus yang melekat pada waran biasanya lebih murah ketimbang harga saham, keuntungan investor bisa berlipat.

Selain itu, harga waran di pasar cukup volatil. Hal ini menjanjikan keuntungan lumayan bagi trader.

Ambil contoh waran DFAM. Harga pelaksanaan waran ini sebesar Rp 143 per waran. Menurut data RTI, pada 27 April lalu, harga waran emiten properti ini sempat mencapai Rp 1.100, atau naik sekitar 669,23% dari harga pelaksanaan. Hari itu, harga waran DFAM ditutup Rp 424.

Jumat lalu (22/6), waran DFAM dilego Rp 360. Bandingkan dengan harga saham DFAM saat ini Rp 845 per saham.

Harga waran BRPT juga saat ini jauh di bawah harga sahamnya. Jumat lalu, harga waran BRPT sebesar Rp 580. Sementara harga sahamnya sudah Rp 2.160 per saham.

“Jika harga beli waran hanya Rp 100 dan harga tebus Rp 2.000, sementara harga saham Rp 3.000, artinya investor hanya perlu mengeluarkan Rp 2.100 untuk memiliki saham tersebut,” kata Kiswoyo Adi Joe, Kepala Riset Narada Aset Manajemen, kemarin.

Perhatikan risiko

Tertarik potensi menjaring cuan dari waran? Sama seperti saham, waran juga memiliki risiko. Kiswoyo menyebut, cepat atau lambat investor harus menjual waran. Sebab, waran bukan aset keuangan riil seperti saham. Waran seperti kupon yang akan hangus jika masa berlakunya sudah habis. “Semakin dekat dengan maturity date, harga waran berpotensi jadi nol,” kata dia. Jadi, risiko waran lebih tinggi dari saham.

Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo mengatakan, investor juga perlu melihat fundamental emiten sebelum memutuskan membeli waran. “Karena risikonya berbanding lurus dengan pergerakan harga sahamnya,” kata dia.

Jika harga saham satu emiten turun dari Rp 1.000 ke Rp 900, warannya juga akan ikut turun Rp 100. Nah, jika harga waran yang ditawarkan Rp 300 lalu turun menjadi Rp 100, persentase kerugian yang investor derita dalam waran lebih besar daripada mendekap sahamnya.

Lucky menilai, kebanyakan waran yang terbit saat ini berasal dari saham lapis dua. Hal ini berpengaruh pada profil risiko waran itu sendiri. Dia mengatakan, bila memutuskan membeli waran, investor harus melihat prospek emiten dan kinerja harga sahamnya ke depan.

Investor juga perlu menghitung harga beli waran, harga tebus dan pergerakan harga sahamnya. Semakin besar selisih harga, semakin menarik waran itu.

Source : kontan.co.id