KONTAK PERKASA FUTURES – Bank Indonesia (BI) akhirnya memotong BI rate menjadi 6,50% dan merealisasikan pelonggaran plafon pemberian kredit atau loan to value (LTV) bagi kredit properti.

Menurut Liliana S Bambang, Analis Mandiri Sekuritas, dalam penelitian Jumat (17/6), kebijakan tersebut dapat membantu sektor properti, terutama dari sisi arus kas, sebab beberapa perusahaan properti menyiapkan pendanaan internal untuk mendorong penjualan mereka.

“Kami menilai, katalis yang lebih besar bagi sektor properti yaitu program pengampunan pajak (tax amnesty),” ucap Liliana.

Christian Saortua, Analis Minna Padi Investama, menyebutkan, ada harapan sesudah pelonggaran LTV, permintaan properti dapat meningkat. Tapi dengan kondisi ekonomi yang belum pulih dan juga mendekati Hari Raya, momentum LTV masih belum tepat.

Biasanya masyarakat menjadikan belanja properti pada prioritas kedua menjelang Hari Raya. “Pasar properti umumnya kembali bergairah sesudah Hari Raya,” kata Christian.

Di semester kesatu tahun ini, penjualan emiten dengan aset properti besar seperti LPKR, CTRA, BSDE, PWON dan SMRA cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya dan sulit mencapai target penjualan. BSDE dan SMRA juga masih mengandalkan produk yang telah berjalan sebagai sumber pendapatan perusahaan.

“Di lain pihak, Ciputra sedang mengalami isu penggabungan unit usaha, saya memantau pergerakan sahamnya akan sangat fluktuatif dalam jangka pendek ini,” ucap Christian.

Terkait saham properti, Christian menyarankan PWON. Pendapatan berulang PWON mampu menjaga nilai perusahaan di tengah penurunan permintaan properti. Di sisi lain BSDE berusaha meningkatkan prapenjualan dari produk high rise.

Dalam penelitian Christian menyebutkan kondisi permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) beberapa bank menurun. Ia memperkirakan, kebijakan baru tersebut belum bisa menumbuhkan permintaan. Apalagi pertumbuhan ekonomi masih belum meyakinkan.

“Hal positif belum ada, masih menantikan tax amnesty,” ucap Christian.

Maxi Liesyaputra, Analis BNI Securities, mengatakan, stimulus BI bukan menjadi alasan kuat bisa menggerakkan industri properti sebab permintaan masih rendah. “Sejak kuartal pertama tahun 2016, BI rate sudah turun, namun permintaan belum berdampak,” kata Maxi.

Namun, Maxi berharap, penurunan suku bunga bisa menstimulasi industri properti. Maxi hanya melihat saham BSDE masih menarik dibandingkan emiten properti lain. Porsi KPR di BSDE yang besar menyebabkan emiten ini akan diuntungkan oleh penurunan bunga.

Akhmad Nurcahyadi, Analis Samuel Sekuritas, menjelaskan, rendahnya kinerja kuartal pertama menyebabkan BSDE akan lebih sulit mencapai target tahun ini. “Peluncuran beberapa kluster kuartal kedua dan semester kedua kami harapkan bisa menjaga kinerja,” kata Akhmad.

Akhmad masih menyukai BSDE sebab komitmen pengembangan usaha lewat kelanjutan pengembangan proyek. “Selain itu ekspektasi perbaikan aktivitas industri masih menjadi kunci utama pertumbuhan emiten properti secara keseluruhan,” kata Akhmad.

Source : kontan.co.id