KONTAK PERKASA FUTURES – Bursa Amerika Serikat (AS) ditutup lebih rendah musim dini hari tadi untuk perdagangan Senin waktu setempat (15/10). Saham-saham teknologi melandai, sementara pasar diliputi kekhawatiran mulai dari tren kenaikan bunga sampai kinerja keuangan korporasi kuartal III yang segera diumumkan.

Indeks teknologi turun 1,6% dan menjadi pemberat langkah S&P 500, meskipun ditopang grup saham real estate.

Banyak saham yang ditutup dengan penurunan tajam pada musim perdagangan kemarin. Investor cukup khawatir dampak kenaikan biaya utang dari tren kenaikan bunga, terhadap kinerja laba korporasi pada periode kuartal III 2018.

Selain itu, Departemen Keuangan AS mengumumkan, pemerintah menutup tahun fiskal 2018 dengan defisit terbesar sejak 2012. Pemerintah mengakhiri anggaran 12 bulan hingga September sebesar US$ 779 miliar, dengan defisit US$ 113 miliar. Defisit ini 17% lebih besar ketimbang peride yang sama tahun sebelumnya.

Anggaran AS menyusut terdampak penurunan pajak untuk korporasi, sementara belanja dan beban utang pemerintah AS terus menanjak.

Selain itu, pasar akan menanti data pertumbuhan ekonomi dari China, yang diperkirakan melambat menjadi 6,6% pada musim kuartal III lalu.

“Pasar dalam mode wait and see. Investor menunggu hasil kinerja korporasi, langkah The Fed, dan data ekonomi dari China apakah memang stabil,” kata Keith Lerner, chief market strategist SunTrust Advisory Services di Atlanta, seperti dikutip Reuters.

The Dow Jones Industrial Average turun 89,44 poin atau 0,35% menjadi 25.250,55. Indeks S&P 500 kehilangan 16,34 poin atau 0,59% menjadi 2.750,79. Sedangkan Nasdaq Composite jatuh 66,15 poin atau 0,88% menjadi 7.430,74.

Bursa saham Wall Street jatuh di awal pekan ini. Ketegangan antara negara Barat dengan Arab Saudi yang meningkat soal hilangnya  jurnalis Jamal Khashoggi pada 2 Oktober di konsulat Saudi Istanbul, Turki, ikut andil memberi sentimen negatif ke pasar.

Selain itu efek perang tarif impor juga masih membebani bursa saham Amerika Serikat (AS). Mengutip Reuters hingga pukul 10.09 waktu AS, Senin (15/10), indeks Dow Jones Industrial Average turun 55,80 poin atau 0,22% ke level 25.284,19.

Indeks  S&P 500 melorot 13,21 poin atau 0,48% menjadi 2.753,92 dan indeks Nasdaq Composite juga turun 71,26 poin atau 0,95% menjadi 7.425,63.

Pasar mencermati perkembangan kasus jurnalis Jamal Khashoggi yang menghilang pada 2 Oktober setelah mengurus dokumen pernikahan di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Khashoggi yang selama ini kritis dengan Arab Saudi diduga tewas dibunuh dan ini memicu reaksi keras dunia internasional terutama negara-negara Barat. Arab Saudi sendiri membantah dibalik hilangnya Khashoggi.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberi “hukuman berat” bagi Arab Saudi jika benar Khashoggi tewas di konsulat Saudi di Istanbul. Namun, Arab Saudi telah bersumpah untuk membalas tindakan apa pun untuk menghukum negara kerajaan itu.

“Kami telah memasuki fase yang tidak stabil dan tidak menentu di pasar, terutama didorong oleh percepatan tingkat kekhawatiran,” kata Andre Bakhos, Managing Director New Vines Capital LLC seperti dikutip Reuters.

Efek perang dagang juga masih menghantui bursa Wall Street. Goldman Sach mengingatkan tentang lemahnya permintaan dari China akan menambah kekhawatiran tentang dampak perang perdagangan AS-China terhadap laba emiten.

Peringatan Goldman tersebut membuat harga saham Apple jatuh 1,6%. Maklum pelemahan permintaan dari China akan mempengaruhi penjualan iPhone di negara tersebut.

Gambaran paling jelas dari dampak perang perdagangan AS-Cina akan tercermin dari laba emiten di kuartal III 2018. Keuntungan emiten di S&P diperkirakan akan meningkat 21,5%, lebih rendah dari pertumbuhan laba dalam dua kuartal terakhir.

Source : kontan.co.id