KONTAK PERKASA FUTURES – Keyakinan terhadap ekonomi Indonesia semakin meningkat pada beberapa waktu terakhir ini. Kabar menyenangkan datang dari berbagai kebijakan pemerintah, yang menyebabkan timbulnya sentimen positif untuk para investor. Dana asing pun sangat banyak yang masuk ke dalam negeri.

Analis Nonghyup Korindo Sekuritas, Reza Priyambada, menempatkan optimisme pertumbuhan ekonomi 2016 dapat mencapai 5,3%. Meskipun bisa saja realisasinya dapat lebih tinggi, seiring bersama berjalannya kebijakan tax amnesty atau program pengampunan pajak .

“Dengan upaya pemerintah yang kita saksikan, maka saya yakin pertumbuhan ekonomi dapat mencapai rentang 5,05%-5,3%,” katanya, dalam diskusi di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Minggu malam (31/7/2016).

Dari sisi inflasi, Reza memprediksikan laju inflasi tahun ini terdapat di kisaran 3,8-4,2%. Hal tersebut sesuai dengan asumsi yang dipatok pemerintah, walaupun sebenarnya masih risiko, seperti kenaikan harga tarif dasar listrik serta bahan bakar minyak (BBM) .

Pada kesempatan yang sama, Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, menyaksikan realisasi ekonomi Indonesia di tahun 2016 lebih rendah, yaitu 5,1%. Akan tapi masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu, yang sebesar 4,8%.

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong utama, namun porsi dari belanja pemerintah masih cukup besar terhadap ekonomi Indonesia. Selain itu, investasi swasta serta ekspor yang terus membaik.

“Ekspor akan lebih baik daripada tahun lalu, karena berkaitan dengan tren positif untuk harga komoditas,” ungkap Rangga.

Sementara itu Analis Mandiri Sekuritas, Leo Putra Rinaldy, melihat lebih pesimistis. Indonesia cenderung masih dalam fase perlambatan ekonomi. Masih serupa dengan kebanyakan negara di dunia. Leo memproyeksi perekonomian Indonesia di 2016 tumbuh sekitar 5%.

“Perekonomian Indonesia memang cenderung masih dalam perlambatan,” ungkapnya.

Berdasarkan keterangan Leo Melihat, untuk mendorong ekonomi berkembang lebih cepat memang diperlukan adanya kenaikan investasi yang signifikan. Hal ini belum terlihat signifikan pada periode 2016.

Mengenai inflasi, Leo memprediksikan 3,5-3,9%. Hal ini dianggap hasil dari upaya pemerintah agar menjaga stabilitas harga bahan makanan lewat kebijakan yang membuka keran impor.

“Jadi risiko inflasi kalau dari bahan makanan itu hampir sedikit, tinggal administer price seperti BBM dan listrik,” terang Leo.

Source : detik.com