PT KONTAK PERKASA – Emas rentan melemah di tengah antisipasi pertemuan komite terbuka The Federal Rerseves yang akan membahas suku bunga. Meski demikian, analis masih melihat peluang rebound emas di akhir tahun.

Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar meyakini, pasar akan merespon positif kenaikan suku bunga The Fed. Penguatan dollar akan lebih solid karena pasar fokus pada peluang pengesahan RUU pajak Amerika Serikat.

“Kondusifnya politik AS terus mendukung peluang pengesahan RUU Pajak,” kata Deddy, akhir pekan ini.

Aturan yang berpotensi memangkas pajak korporasi AS menjadi 20% dari semula 35% ini bisa memberikan dorongan fiskal bagi perekonomian AS dan menjadi sentimen jangka panjang yang bakal terus menyokong dollar. Sehingga, emas cenderung melemah.

Walau demikian, Deddy meyakini, masih ada peluang kenaikan harga emas akhir tahun ini. Perkiraannya, emas bisa mencapai US$ 1.350-US$ 1.400 per ons troi di penghujung tahun. Prediksi bullish lantaran emas masih bisa ditopang momen tahun baru China.

“Siklus emas akhir tahun cenderung buy karena harga sudah murah, belum lagi ada tahun baru China,” jelas Deddy.

Adapun, untuk jangka pendek, pekan ini, harga emas diramalkan masih melemah. Pasar akan merespon data tenaga kerja AS yang cukup solid. Pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian AS sebesar 228.000, melampaui ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran bulan November juga bertahan di level 4,1%.

“Kalau data-data tersebut di respon positif, harga emas berpotensi melemah di kisaran US$1.233-US$ 1.260,” katanya.

Mengutip Bloomberg, Jumat (8/12), harga emas untuk pengiriman Februari 2018 di Comex-AS turun 0,37% ke level US$ 1.248,4 per ons troi.

Source : kontan.co.id