Rupiah. Bank Indonesia (BI) mencatat, bahwa jumlah perusahaan yang melaksanakan kegiatan penerapan prinsip kehati-hatian dengan cara menerapkan sistem lindung nilai (hedging) sudah menurun. Pada kuartal IV tahun 2015 silam, jumlah perusahaan yang sudah melaporkan kegiatan hedging adalah sebanyak 2.444 perusahaan. Nah, sedangkan pada kuartal I 2016, jumlahnya menurun sebesar 2,9% menjadi berjumlah 2.372 perusahaan.

KONTAK PERKASA FUTURES – Merujuk data yang didapat dari BI, jumlah perusahaan yang seharusnya melaporkan hedging pada kuartal I 2016 karena mempunyai utang luar negeri yang mencapai 2.540 perusahaan. Itu artinya adalah, sebanyak 93% dari perusahaan sudah melaporkan ke BI.

Bagi perusahaan yang tidak melaporkan hedging, dapat dinyatakan bahwa mereka tidak melaksanakan aksi lindung nilai meski mempunyai utang valas.

Direktur Utama Bank Central Asia (BCA) yaitu Jahja Setiaatmadja mengatakan, tren penurunan hedging ini masih dianggap wajar karena banyak juga yang memprediksi nilai tukar rupiah masih akan berada pada posisi yang stabil dalam beberapa waktu ke depan.

“Kalau sekarang tidak perlu hedging sebab masih stabil. Sementara hedging juga memerlukan biaya,” papar Jahja kepada kami, Minggu (4/9). Jahja juga menambahkan, program pengampunan pajak diperkirakan bisa menstabilkan nilai tukar sebab ada aliran dana asing yang masuk.

Direktur Tresuri dan Internasional Bank Negara Indonesia (BNI) yaitu Panji Irawan menilai, penurunan hedging tersebut adalah sebagian bersumber dari penurunan harga komoditas pada periode bulan Januari-Agustus 2016. Meski begitu, volume transaksi hedging para nasabah BNI justru tetap meningkat, terutama pada sektor komersial.

“Pada bulan Agustus 2016, volume transaksi lindung nilai BNI naik sebesar 56%. Mayoritas untuk jangka waktu yang lebih singkat,” ungkap Panji kepada kami, Selasa (6/8). Namun, Panji juga mengatakan, jumlah nasabah hedging BNI pada transaksi forex forward ternyata menurun.

Hal tersebut disebabkan dampak dari penerapan kewajiban untuk penggunaan rupiah di dalam negeri. Berbeda dengan Jahja, Panji menilai, ke depan volume transaksi lindung nilai akan lebih meningkat seiring pertumbuhan ekonomi serta kepatuhan pelaku bisnis.

Untuk informasi tambahan, meski jumlah perusahaan yang melakukan hedging menurun, tren nilai hedging masih tetap meningkat yaitu menjadi US$ 6,61 miliar di kuartal I 2016, apabila dibandingkan periode sama tahun 2015 yang yaitu senilai US$ 4,41 miliar.

Source : kontan.co.id