KONTAK PERKASA FUTURES – Sentimen tax amnesty memang menggerakkan bursa saham lokal. Berbagai saham konglomerasi turut bergerak. “Tax amnesty mempunyai efek positif pada semua sektor,” kata Analis Daewoo Securities Franky Rivan kepada kami, Kamis (14/7).

Namun secara spesifik dia melihat, dari sekian banyak konglomerasi yang ada, yang menjadi penerima dampak positif yang paling besar adalah Sinarmas Group. Hal tersebut disebabkan portofolio bisnis yang dimiliki, yaitu properti melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

Pada waktu tax amnesty berlaku, akan banyak masuk aliran dana. Nah, saat uang milik orang kaya masuk, tentunya mereka ingin agar uang tersebut juga kembali menghasilkan sesuatu. Salah satu caranya yaitu dengan masuk pada sektor riil. Sebelumnya properti masih menjadi sektor riil yang sangat populer di Indonesia.

Dari sini terlihat, saham konglomerasi yang paling diuntungkan yaitu konglomerasi yang mempunyai bisnis properti besar, seperti BSDE. Kontribusi kinerjanya kepada induk entitas harus besar. Maka dari itu Grup Ciputra menjadi kandidat kedua. Lippo Group juga pada akhirnya ikut diuntungkan.

Tapi sekarang ini, portofolio grup tersebut mulai berubah. Dahulu, Lippo Group besar oleh proyek-proyek propertinya lewat PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) serta PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK). Sekarang, bisnis grup tersebut mulai beralih ke arah bisnis rumah sakit serta layanan kesehatan, lewat PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).

Secara konsolidasi, kontribusi pendapatan dari bisnis rumah sakit mulai menggeser kontribusi bisnis properti. “Sekarang, sekitar 60% justru diperoleh dari bisnis rumah sakit,” tambah Franky.

Efek positif tax amnesty hanya bisa dirasakan oleh para pelaku pasar secara terbatas. Franky bilang, saham sektor properti sudah overvalue, juga karena sentimen tax amnesty ini.

“Ada kemungkinan revised up, tapi kami juga perlu melihat hasil kinerja kuartal II nanti,” imbuhnya.

Senada dengan Franky, analis Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Sekuritas melihat, tax amnesty bakal menghasilkan banyak sentimen positif. Efeknya luas dan ini juga bisa terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait tax amnesty yang segera diumumkan akan mempengaruhi pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

“PMK tersebut akan menyebabkan UU Tax Amnesty menjadi lebih operasional di tingkat kantor pajak,” kata Lana, dalam riset yang diterima kONTAN, Kamis (14/7).

DPR menyetujui UU Tax Amnesty pada 28 Juni lalu. Tapi masih perlu PMK untuk implementasi aturan ini. Menurut Lana, pemerintah sangat mengandalkan penerimaan dari tax amnesty sekitar Rp 165 triliun. Terlebih, penerimaan perpajakan hingga akhir Juni 2016 baru 33,8% dari target. Ini juga masih di bawah realisasi penerimaan pajak periode sama tahun lalu.

Source : kontan.co.id