KONTAK PERKASA FUTURES – Kesalahan. Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari saja. Sebagian besar dari anda mungkin sudah mudik dan sudah sampai di kampung halaman. Sebagian lagi memilih mudik di Hari Raya (ini contoh usulan mudik murah yang saya rekomendasikan sejak 15 tahun lalu dan Alhamdulillah banyak dipakai orang sekarang), agar biaya mudik menjadi murah, atau mungkin tidak lebih murah tapi tidak perlu berdesakan, antre, dan terkena macet arus mudik.

Bila diperhatikan dalam kurun waktu 15 tahun terakhir (di era modern reformasi) telah terjadi pergeseran esensi tentang mudik yang nyata. Dahulu kala mudik adalah ajang tempat bertemu kangen silarahim seluruh anggota keluarga yang merantau mencari peruntungan di kota besar. Namun saat ini, banyak dijumpai mudik justru menjadi ajang unjuk gigi memperlihatkan ‘keberhasilan’ mereka di kota besar (kalau benar-benar berhasil).

Berikut ini beberapa contoh kesalahan keuangan yang sering anda lakukan ketika mudik. Semoga bisa dijadikan pelajaran dan tidak kita lakukan lagi ke depannya.

Maksa Mudik Pakai Gaji Bulan Juli
Anda tidak punya persiapan untuk mudik tahun ini, kebetulan waktunya mudik sangat dekat dengan tanggal gajian, lalu apa yang anda lakukan? Yes mudik pakai gaji anda di bulan Juli ini? Betul tidak? SALAH BESAR. Ingat gaji anda dipakai untuk menutup biaya pengeluaran bulanan anda. So, ketika anda nekat mudik pakai gaji, itu namanya anda cari penyakit. Pulang mudik tanggal 11, 12, 13 Juli anda akan dihadapkan dengan tagihan-tagihan dan biaya hidup yang belum dibayarkan di bulan Juli ini. So? Bagaimana tuh cara menutupnya?

Memaksa Mudik Pakai Utang
OK, anda tidak punya uang. OK THR anda sudah habis terpakai buat beli HP baru, atau mungkin buat pengeluaran lainnya. Anda pun tetap nekat memutuskan untuk mudik dengan cara berutang. Bisa utang sama teman, sama orang, sama koperasi kantor atau utang ke bank. Kesalahan. Mudik pakai utang sama cari gara-garanya seperti mudik bawa gaji bulan Juli. Anda memaksakan melakukan sesuatu untuk hal yang anda sendiri tidak mampu atau tidak ada uangnya sekarang. Apa yang terjadi ketika anda balik ke kota anda sepulang mudik? Anda terpaksa harus menyicil utang anda yang mengakibatkan keuangan bulanan anda terganggu.

Memaksa Mudik Gadai Barang
OK lah anda tidak berutang ke bank atau ke orang, anda memilih menggadaikan perhiasan anda, karena anda berpikir toh masih ada barangnya. Ini yang paling sering dilakukan oleh banyak orang. Menggadaikan barang sebenarnya sama saja dengan berutang, bahkan ‘bunga’ nya cenderung tinggi. So pikirkan baik-baik apakah anda mampu untuk membayar cicilan atau menebus barang yang anda gadai.

Maksa Mudik Nyicil Mobil
Demi menjaga gengsi biar kelihatan seperti orang sukses di kota, dengan berdalih biaya mudik lewat jalan darat (pakai mobil) lebih murah, maka anda nekat DP mobil dan nyicil untuk dibawa mudik ke kampung halaman. Anda akan terlihat seperti orang sukses dengan kendaraan baru anda, tapi mengertikah apa yang telah anda lakukan? Anda membuat utang baru (kendaraan) yang secara cicilan belum tentu anda mampu bayar.

Biasanya orang-orang seperti ini mencari DP mobil serendah mungkin yang akibatnya cicilan bulanan menjadi sangat mahal. Kesalahan. Yang kemudian terjadi, ketika kembali ke kota besar anda tidak mampu meneruskan membayar cicilan, akibatnya mobil anda disita. Tidak berhenti di situ, nama anda dilaporkan ke Bank Indonesia dan rusak. Ke depannya bila anda ingin berutang lagi pasti akan ditolak, karena nama anda sudah rusak dan masuk daftar hitam Bank Indonesia.

Maksa Mudik Nyicil Gadget Terbaru
Smartphone (telepon pintar) terbaru memang terlihat keren dan modern, dan anda pun memaksakan membelinya dengan dalih bisa menyicil selama 12 bulan tanpa kena bunga. Kesalahan. Helloooo anda mau mudik ke kampung halaman (baca: desa), di mana orang di sana 1. Belum tahu apa itu gadget, 2. Tidak mengerti brand mahal yang anda beli (biasanya gambar buah), 3. Di kampung belum tentu ada sinyalnya, kalaupun ada sinyal boro-boro bisa ke 4G kalau di 3G saja susah.

Kebayangkan bagaimana mau nampang dan mau upload status di media social pakek 2G lamanya kayak apa. Pamer smartphone di kampung halaman percuma, paling jauh anda bisa pakai telpon anda untuk foto-foto kegiatan selama mudik, hati-hati HP anda nyemplung ke sungai, belum lunas itu.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. So? Be realistic deh. Anda mudik itu untuk ketemu orang tua dan anggota keluarga, bukan untuk nampang-nampangan, riya, menunjukkan kalau sudah sukses di kota besar. Kalau tidak ada bujetnya jangan memaksakan mudik. Kalaupun mudik ya lakukan dengan cara sederhana. Belajarlah kelola keuangan dengan baik dan benar, biar mudik tahun depan tidak perlu ngutang lagi dan ada bujetnya.

Ke mana sekolah dan belajarnya? Salah satunya adalah workshop mengelola keuangan simple, infonya bisa dibuka di sini, atau workshop tentang belajar berinvestasi, info bisa dibuka di sini. Akan lebih bagus bila kita belajar secara lengkap seperti kelas Basic Financial Planning beberapa hari ini, info bisa dibuka di sini.

Mudiklah dengan sederhana. Jangan terbawa eforia mudik harus jadi orang sukses dengan menunjukkan barang-barang yang anda miliki. Anda akan kehilangan esensi dari perayaan Idul Fitri. Bila ada teman atau tetangga anda yang seperti itu, biarkan dan doakan saja, tapi jangan ikut-ikutan lalu membuat kantong anda jebol dan anda bermasalah dengan keuangan.

Akhir kata saya Aidil Akbar Madjid beserta tim di AAM & Associates (www.aamandassociates.com) dan tim IARFC Indonesia (www.IARFCIndonesia.com) mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” “Taqoballahu Minna Waminkum Siyamana Wa Siyamakum”, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Source : detik.com