KONTAK PERKASA FUTURES – Agar menumbuhkan minat serta pengetahuan anak terhadap profesi tertentu, lembaga pendidikan mengadakan program diantaranya dokter cilik atau polisi cilik. Umumnya program semacam ini bertujuan agar anak tak hanya mengenal seluk-beluk profesi yang dimaksud, namun juga termovitasi dan meneladani mereka.

Harapan yang serupa dikatakan Zullies Ikawati, dosen Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta. Bersama dua rekannya, Triana Hetriani dan Agung Endro Nugroho, mereka pun menggagas program apoteker cilik, yang dimulai di dua sekolah dasar di Yogyakarta.

“Kita sering merasakan, sekaligus introspeksi, jika masyarakat datang ke apotek tidak nyari apotekernya. Sedangkan peran apoteker penting sebagai ahli obat,” kata Zullies ketika ditemui kami baru-baru ini.

Tapi Zullies menggunakan cara yang tidak umum untuk mengenalkan apoteker, yakni dengan mencetuskan program ‘Apoteker Cilik’. Dosen farmakologi tersebut ingin masyarakat mengenal apoteker sejak dini, dan perannya sebagai tenaga kesehatan, di samping dokter, bidan, perawat, ahli gizi, dan lainnya.

Tapi kenapa anak-anak? Zullies menjelaskan punya alasan tertentu. Bersadarkan keterangannya, anak-anak lebih dapat menerima informasi yang disampaikan secara ringan, serta mereka mudah menjadi agen informasi untuk teman-temannya.

“Bahkan jika di anak-anak, informasi ringan itu dapat melekat sampai dia dewasa. Anak itu kan jika diceritain sama temennya atau temennya punya mainan atau sesuatu yang baru banyak yang suka ikut kan. Jadi kita dasarkan dari situ,” terangnya.

Zullies menambahkan, pelatihan apoteker cilik tersebut akan memakai model ‘training for trainer’. Mahasiswa Farmasi UGM yang akan memberika pelatihan. Mahasiswa yang tergabung dalam PIOGAMA (Pusat Informasi Obat Gadjah Mada), lembaga di bawah naungan Fakultas Farmasi UGM yang berperan untuk memberikan edukasi tentang obat.

“Targetnya kita memperkenalkan tentang obat, makanan serta jajanan sehat yang seperti apa, pengenalan obat tradisional yang levelnya sederhana. Dasarnya juga game (permainan),” kata rekan Zullies, Triana.

Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat berbentuk ekstrakurikuler, yang bersifat opsional, yang berarti anak bisa memilih atau tidak wajib ikut serta dalam kegiatan tersebut. Untuk percobaan, Zullies dan rekan-rekannya memilih dua sekolah dasar di Yogyakarta, SD Negeri Kentungan dan SDIT Lukmanul Hakim.

Tapi tidakkah anak-anak akan mengalami kesulitan memahami istilah yang dipakai pada ilmu farmasi? “Kita masih evaluasi terus ya. Namun jika saya lihat, anak-anak tidak terlalu yang detail-detail karena mereka lebih suka ke cara penyampaian. Mungkin kedepannya kami juga akan melatih trainer-nya agar bisa menyampaikan istilah dengan bahasa yang lebih ringan” imbuhnya.

Alat bantu yang digunakan untuk pelatihan tersebut, Zullies dan rekan-rekannya pun menciptakan semacam kit yang terdiri dari komik apoteker cilik, flash card untuk permainan mengenal istilah obat dan boneka ikon, yaitu JEKSI (berbentuk injeksi), TABBY (berbentuk tablet) serta KAPSI (berbentuk kapsul).

“Komiknya terinspirasi dari majalah sains. Yang gambar pun mahasiswa sendiri. Namun karena permintaannya banyak, alhamdulillah ada penerbit yang mau membantu dan nantinya ilustrasinya akan diperbaiki,” katanya.

Zullies menambahkan, program pelatihan berhasil berjalan dari bulan Agustus-November 2015, lalu akan ada tahap kedua yang akan dimulai tahun ini. Dan selama berjalannya program, Zullies menyadari bahwa kendala terbesar yang ada yaitu mencocokkan jadwal akademik antara mahasiswa dengan siswa SD yang menjadi target program.

Source : detik.com