KONTAK PERKASA FUTURES – Suhu udara yang lebih dingin dan lemahnya posisi USD jadi katalis yang mendukung terbangnya harga gas alam. Meski demikian, analis menduga pengembangan shale gas alam di AS bisa jadi pengganjal tren bullish harga gas alam untuk jangka pendek.

Mengutip Bloomberg, Jumat (14/4) harga gas alam kontrak pengiriman Mei 2017 di New York Mercantile Exchange melambung 1,26% ke level US$ 3,23 per mmbtu dibanding hari sebelumnya.

Andri Hardianto, Research and Analyst PT Asia Tradepoint Futures menjelaskan pasca pelemahan USD harga komoditas termasuk gas alam memang terbang. Hal tersebut setelah data inflasi dan penjualan ritel AS mengecewakan pelaku pasar.

Di luar itu, terdapat laporan perkiraan cuaca yang menunjukkan akan terjadi suhu udara yang lebih dingin dari rata-rata suhu standar.

MDA Weather Services memperkirakan sepanjang teritori wilayah utara AS periode 17 – 26 April 2017 mendatang akan lebih dingin. Sementara AccuWeather menebak wilayah Boston akan mengalami suhu 1 derajat celcius pada 18 April 2017 yang artinya lebih dingin delapan derajat dari suhu biasanya.

Keadaan ini semakin didukung oleh laporan stok total gas alam AS hingga 31 Maret 2017 yang berada di area 2,051 triliun kaki kubik atau 17% di bawah level periode yang sama tahun sebelumnya.

“Hanya saja kenaikan ini sifatnya sementara bahkan bukan tidak mungkin Senin (17/4) terkikis koreksi mengingat fundamental negatif yang membayangi pergerakan harga,” tutur Andri.

Pertama, dilaporkan Energy Information Administration (EIA) stok gas alam mingguan AS naik dari 2 miliar kaki kubik menjadi 10 miliar kaki kubik. Tentunya ini menegaskan bahwa permintaan yang terdapat di pasar global masih mongering dan bisa semakin menyudutkan langkah gas alam ke depannya.

“Rencana AS untuk kembali mengembangkan tiga shale gas alamnya juga berpotensi menambah pasokan gas alam secara global,” imbuh Andri.

Kementerian Energi AS memastikan saat ini sedang memasuki tahap akhir dalam penyelesaian shale gas di Pennsylvania, West Virginia dan Ohio.

Nantinya setelah pengembangan ketiga rangkaian shale terbaru ini beraktivitas penuh maka akan terjadi kenaikan produksi dari sebelumnya 23 miliar kaki kubik per hari di 2016 menjadi 35 miliar kaki kubik per hari.

“Dengan bayang ini bukan tidak mungkin sepanjang pekan depan harga gas alam pun masih dalam bayang penurunan lanjutan,” tebak Andri.

Source : kontan.co.id