Ekspor impor. Neraca perdagangan Agustus 2016 mencatat suplus sebesar US$ 293,6 juta. Nilai surplus tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Juli 2016 yang sebesar US$ 513,6 juta karena adanya kenaikan impor cukup tinggi.

KONTAK PERKASA FUTURES – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor Agustus 2016 sebesar US$ 12,36 miliar, naik 32,54% dibanding Juli 2016. Namun dibandingkan Agustus 2015, masih turun 0,74%. Sementara impor sebesar US$ 12,34 miliar, naik 36,84% dibanding Juli 2016. Nilai itu masih turun 0,49% dibanding Agustus 2015.

Hingga Januari-Agustus 2016, ekspor tercatat sebesar US$ 91,73 miliar dan impor US$ 87,35 miliar. Jumlah itu lebih rendah masing-masing 10,61% dan 9,42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara ekspor manufaktur Januari-Agustus 2016 masih turun 4,37% YoY dan ekspor industri pertanian dan pertambangan yang masing-masing turun 20,69% dan 20,83% YoY.

Dari sisi impor berdasarkan golongan penggunaan barang, seluruhnya mengalami kenaikan dibandingkan Juli 2016. Impor barang konsumsi naik 60,43%, bahan baku penolong naik 33,37%, dan impor barang modal naik 41,23% dibanding Juli 2016.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, kenaikan kinerja ekspor impor Agustus 2016 terjadi karena aktivitas perdagangan internasional kembali normal pasca lebaran pada Juli 2016.

Banyaknya hari libur di Juli 2016 membuat suplai ekspor turun, hal tersebut menyebabkan harga barang ekspor Indonesia meningkat. “Pembeli di negara lain pasti butuh barang yang selama ini kurang. Karena kurang harganya naik,” katanya, Kamis (15/9).

BPS mencatat, rata-rata harga agregat barang ekspor Indonesia naik 15,34% dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan kenaikan impor terjadi karena berdasarkan polanya, permintaan dari dalam negeri juga meningkat pasca lebaran.

Berpotensi turun lagi

Namun diprediksi kenaikan kinerja ekspor dan impor yang tinggi tidak akan kembali terjadi di September 2016. Menurut Sasmito, berdasarkan polanya, ekspor maupun impor bulan September cenderung menurun dan baru akan meningkat lagi di akhir tahun.

Dia memproyeksikan kinerja ekspor tahun ini akan sulit menyamai tahun lalu yang mencapai US$ 150,37 miliar. Hal itu terjadi karena kondisi global yang belum sepenuhnya membaik.

Dengan capaian ekspor hingga Agustus 2016 sebesar US$ 91,73 miliar, maka dibutuhkan ekspor masing-masing US$ 15 miliar di sisa empat bulan tahun ini untuk menyamai ekspor tahun lalu.

Begitu juga dengan ekspor impor yang diperkirakan bakal menujukkan tren penurunan. “tetapi kami harapkan masih ada peluang surplus ke depan,” katanya.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, kenaikan ekspor Agustus 2016 lebih disebabkan peningkatan harga komoditas. Harga komoditas ekspor naik karena dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia yang cenderung naik di akhir Agustus.

Kenaikan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh kurs dollar Amerika Serikat (AS) dari sentimen kenaikan suku bunga The Fed. “Jadi kenaikan harga bukan karena suplai dari Indonesia berkurang, tetapi karena ada dorongan kenaikan harga minyak mentah.

Negara-negara Indonesia dan Brasil yang berbasis komoditas mengalami penguatan mata uang cukup signifikan,” kata Lana.

Sementara dari sisi impor, kenaikan impor bahan baku dan barang modal bisa jadi terjadi karena persiapan kenaikan produksi oleh swasta untuk menghadapi akhir tahun. Impor juga naik mengikuti pola musiman pembangunan infrastruktur oleh pemerintah yang lebih gencar.

Lana mengatakan, masih ada kekhawatiran penurunan ekspor dan impor ke depan. Sebab pelonggaran ekspor mineral yang dilakukan oleh pemerintah dapat meningkatkan suplai mineral dari Indonesia.

Hal tersebut bisa mengakibatkan penurunan harga komoditas mineral Indonesia. Sementara dari sisi impor, dikhawatirkan kembali turun. “Di September nanti impor menurun, berarti benar kenaikan di Agustus hanya bersifat sementara,” tambahnya.

Lana memperkirakan surplus neraca perdagangan tahun ini lebih rendah dari tahun lalu yang tercatat US$ 7,67 miliar. Hal itu mengindikasikan bahwa kinerja ekspor impor telah melewati titik terendahnya yang terjadi pada tahun lalu.

Prediksi surplus neraca dagang Agustus 2016 sudah dikatakan Bank Indonesia (BI) sebelumnya sebesar US$ 150 juta.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, surplus terjadi karena peningkatan ekspor yang tinggi. Sementara kenaikan impor dinilai, menunjukkan aktivitas bisnis di dalam negeri membaik.

Source : kontan.co.id