KONTAK PERKASA FUTURES – Antisipasi pasar terhadap hasil FOMC Kamis (15/6) dini hari nanti jadi katalis yang untuk sesaat mendongkrak harga perak. Kenaikan signifikan ini juga didukung oleh dugaan pasokan perak yang diduga menipis sepanjang tahun 2017 ini.

Mengutip Bloomberg, Rabu (14/6) pukul 16.27 WIB harga perak kontrak pengiriman Juli 2017 di Commodity Exchange melambung 1,19% ke level US$ 16,96 per ons troi dibanding hari sebelumnya. Walau dalam sepekan terakhir harga perak sudah menukik 3,74%.

Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka menjelaskan kenaikan harga perak lebih disebabkan oleh hasil pemilu Inggris yang masih menimbulkan ketidakpastian sampai saat ini. Efeknya, pelaku pasar memilih berpegang pada aset safe haven seperti perak. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir penurunan harga perak terhitung signifikan sehingga wajar terjadi penyesuaian posisi di saat ada celah keunggulan seperti saat ini.

“Antisipasi pasar terhadap rilis pertemuan FOMC juga memberikan kesempatan bagi komoditas logam mulia seperti perak untuk naik terbatas,” imbuh Ibrahim. Memang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps hampir dipastikan akan terjadi namun pasar menanti bagaimana proyeksi The Fed mengenai suku bunganya hingga akhir tahun 2017 nanti. Jika gagal mempertahankan pernyataan hawkish dengan menjaga peluang kenaikan dua kali lagi maka USD bisa terpuruk.

Pelemahan USD jelas menjadi angin segar bagi harga komoditas terutama logam mulia. Tidak berhenti di situ keuntungan bagi harga perak juga datang dari dugaan Metal Focus bahwa sepanjang tahun 2017 ini pasokan perak global akan menipis. Dengan rata-rata kenaikan produksi sejak tahun 2010 hanya sebesar 3% per tahunnya, diperkirakan hal ini akan berujung pada keringnya pasokan di tahun ini.

Jika perkiraan tersebut benar terjadi maka tahun 2017 akan menjadi tahun pertama penurunan pasokan perak dalam 15 tahun terakhir. Ini mengarahkan Metal Focus pada prediksi sepanjang tahun 2017 harga perak akan bergerak dalam rata-rata US$ 18,30 per ons troi atau jauh di atas level saat ini.

“Memang ada peluang ke arah sana melihat ketidakstabilan global yang masih tinggi dan permintaan global yang terjaga dari sisi industri,” imbuh Ibrahim.

Source : kontan.co.id