KONTAK PERKASA FUTURES – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kasus investasi bodong terjadi karena masih ada masyarakat yang tergiur dengan iming-iming keuntungan yang besar. Misalnya, menawarkan bunga keuntungan 5% per bulan.

“Kenapa investasi model ini masih marak karena orang Indonesia tuh masih banyak yang tergiur ditawari investasi bunganya tinggi ,imbalan tinggi. Mereka tawarkan bunga keuntungan 5%/bulan nggak masuk akal, tapi masuk rekening, bagaimana mungkin,” ujar Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan Departemen Penyidikan OJK, Tongam L Tobing, di Hotel Aston Sentul, Bogor, Sabtu (4/6/2016)

Alhasl, banyak orang yang tertarik dan akhirnya ikut investasi tersebut. Apalagi pendaftarannya cukup mudah, tak perlu datang ke kantor perusahaan tapi cukup secara online saja.

Untuk mengatasi masalah ini, OJK telah membentuk Satuan Tugas Waspada Investasi (Satgas Waspada Investasi) yang bertugas untuk mengidentifikasi kasus, menganalisis, dan melaporkan beberapa perusahaan investasi bodong. Saat ini, OJK mengidentifikasi 406 perusahaan yang diduga melakukan tindakan investasi ilegal dari sebelumnya ada 262 perusahaan pada tahun 2014.

Berbagai perusahaan investasi ini tidak memiliki izin dari OJK tetapi tak menutup kemungkinan perusahaan tersebut mendapatkan izin dari instansi lain. Selain itu, mereka menyelenggarakan berbagai macam model investasi mulai dari umroh, emas, voucher wisata dan lainnya.

“Merekrut orang baru dia dapat bayaran. Kemudian juga investasi emas Rp 100 juta, pembeli emas ditunjukkan emas, emasnya itu saja padahal nanti ditawarkan investasi emasnya cuma satu sampai ribuan orang tergiur. Investasi umroh Rp 3,7 juta nggak masuk akal tapi ada yang berangkat. Kelebihan investasi ini level pertama dan kedua untung, yang ke bawahnya merugi,” terang Tongam.

Source : detik.com