Jumlah saham yang bergerak tak wajar atau masuk kategori unusual market activity (UMA) terus bertambah di tahun ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, sampai pertengahan Agustus 2016, terdapat 77 kali pergerakan saham yang terdapat dalam radar UMA.

Jumlah tersebut bertambah lebih dari 100% dibandingkan periode sama tahun yang lalu, yaitu hanya 34 kali. Bahkan, pergerakan saham yang masuk UMA selama tahun 2015 hanya 60 kali. Dari jumlah UMA sejumlah 77 kali, BEI menyatakan sebagian besar terjadi diakibatkan ada peningkatan harga saham.

Adapun pengumuman UMA karena penurunan harga saham hanya 11 kali. Sektor yang terbanyak masuk radar UMA adalah saham pertambangan serta keuangan.

KONTAK PERKASA FUTURES – Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan dan Kepatuhan BEI menjelaskan, kenaikan UMA mengindikasikan kegiatan transaksi di pasar saham meningkat. “Ini berarti bagus. Likuiditas bertambah, frekuensi juga naik,” kata dia, akhir minggu lalu.

Frekuensi transaksi harian di BEI sudah bertambah daripada tahun sebelumnya. Jadi, kata Hamdi, pantas apabila tahun ini terjadi kenaikan jumlah UMA. Akhir minggu lalu, frekuensi transaksi saham mencapai 272.316 kali.

Sebelumnya, frekuensi sempat menyentuh rekor, yakni 377.000 kali Juli lalu. Selama bulan Januari-Juli 2016, rata-rata frekuensi transaksi harian di BEI hingga 248.000 kali. Jumlah ini naik 11,71% ketimbang perdagangan tahun lalu 222.000 kali.

Hamdi menegaskan, pertumbuhan jumlah UMA tidak hanya karena faktor goreng-menggoreng jumlah saham. Hal itu terjadi seiring frekuensi serta nilai transaksi yang naik jadi akan membawa dampak positif ke bursa saham. Oleh sebab itu, ia menekankan kenaikan jumlah UMA tak dapat disimpulkan bahwa kondisi pasar semakin jelek.

Apalagi pengumuman UMA tidak langsung menunjukkan pelanggaran. UMA hanya menjadi peringatan kepada investor bahwa harga suatu saham yang sedang diawasi berbeda dari biasanya.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, berpendapat, kenaikan jumlah UMA mengindikasikan dua hal. Kesatu, kondisi pasar semakin bergairah. Berikutnya, otoritas bursa bekerja efektif. “Artinya likuiditas pada pasar meningkat dan otoritas bursa bekerja secara baik mengawasi saham-saham,” kata dia, Minggu (14/8).

Menurut Hans, penetapan UMA tahun 2016 ini lebih banyak sebab harga meningkat. Itu terjadi karena kondisi sekarang ini pasar lebih likuid. Apalagi, terdapat banyak sentimen positif di dalam negeri, misalnya pengembangan infrastruktur serta kebijakan tax amnesty.

Faktor tersebut menyebabkan dana asing mengalir masuk serta pasar semakin bergairah. Hans menambahkan, UMA bukan berarti terdapat pelanggaran. Tapi, otoritas mendeteksi jumlah saham yang diawasi bergerak tidak biasanya. Ia yakin, BEI sudah memiliki peta untuk menentukan pergerakan suatu saham wajar atau tidak.

Jika terdapat saham yang diam tiba-tiba bergerak aktif, BEI akan memasukkan pada kategori UMA dan selanjutnya meminta emiten agar menjelaskan penyebab pergerakan tersebut. Setelah mendapat jawaban, otoritas bursa dapat menentukan apakah dilanjutkan pada penghentian sementara perdagangan (suspensi) ataupun tidak.

“Namun suspensi juga bukan karena akibat pelanggaran, tapi agar pasar cooling down dulu,” tutur Hans.

Analis Asjaya Indosurya, William Surya Wijaya, juga mengatakan, peningkatan jumlah UMA tidak mengindikasikan pasar sedang jelek. UMA mengingatkan penanam modal adanya pergerakan yang kurang wajar serta agar pelaku pasar tidak terjebak.

Source : kontan.co.id