PT KONTAK PERKASA – Harga komoditas masih terus berada di level atas. HSBC dan Macquarie mengerek proyeksi harga saham komoditas tambang dengan kenaikan rata-rata 3%-8% hingga kontrak 2019 nanti.

Melihat proyeksi harga komoditas tambang oleh HSBC, upgrade terbesar ada pada komoditas bijih besi (iron ore), baja, dan tembaga. Sementara itu, perubahan terkecil ada pada komoditas aluminium, nikel, serta batubara (coking dan thermal).

Analis NH Korindo Sekuritas Raphon Prima menilai, proyeksi kenaikan harga komoditas ini tak signifikan dibanding kenaikan harga komoditas yang sudah terjadi saat ini. Dengan demikian, potensi rally yang cukup pesat dalam waktu singkat bagi saham-saham pertambangan diperkirakan sulit terulang.

Namun, adanya upgrade proyeksi harga komoditas tambang, menghembuskan angin segar akan stabilnya harga hingga kontrak 2019. Menurut Raphon, dengan potensi stabilnya harga, setidaknya perusahaan tambang Indonesia dapat fokus dalam memulihkan tingkat produksi serta efisiensi.

“Mayoritas perusahaan tambang baik batubara dan mineral telah mengalami rally harga saham yg signifikan. Namun dengan perbaikan kondisi baik eksternal dari sisi permintaan yang mulai stabil serta pemulihan produksi, harga saham perusahaan komoditas tetap memiliki peluang untuk rally secara bertahap,” tambah Raphon, Kamis (7/9).

Meski demikian, menurut Raphon saat ini saham komoditas tambang masih menarik karena menyimpan potensi perbaikan volume produksi. “Yang patut diperhatikan adalah saham perusahaan komoditas yang memiliki eksposur seimbang antara pasar domestik dan ekspor, contohnya PTBA,” ujar Raphon.

Dengan demikian, Raphon merekomendasikan buy untuk saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 16.150. Sementara untuk saham mineral PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Raphon bilang NH Korindo Sekuritas masih merekomendasikan hold dengan target harga Rp 2.560.

Sejalan, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai bahwa upgrade kenaikan harga komoditas di kisaran 3%-8% terbilang tak signifikan. Namun, Hans masih optimis bahwa outlook tersebut memberikan sentimen positif bagi sektor pertambangan.

“Tambang ini masih punya kekuatan untuk bergerak naik. Kalau harga internasional naik ya keuntungan mereka meningkat naik,” ujar Hans. Adapun Hans melihat, sentimen positif merata membayangi emiten tambang baik di sektor mineral maupun batubara.

Hans pun menilai, sentimen ini berkorelasi positif terhadap harga sahham emiten tambang. Meski harga sahamnya tak akan naik signifikan, Hans menilai saham emiten tambang masih menarik. Hal ini juga didorong oleh perbaikan ekonomi Tiongkok dan kondisi geopolitik yang masih memanas.

Beberapa emiten yang menjadi perhatian Hans adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Source : kontan.co.id