KONTAK PERKASA FUTURES – Guna mendongkrak imbal hasil (return), manajer investasi biasanya selalu aktif mengatur portofolio. Begitu pula strategi yang diterapkan PT Bahana TCW Investment Management dalam meracik reksadana pendapatan tetap Ganesha Abadi.

Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengungkapkan, perusahaan saat ini telah memperpendek durasi surat utang Ganesha Abadi dari semula 6,9 tahun menjadi 6,2 tahun. Beberapa waktu lalu mereka memang sempat merealisasikan keuntungan dari obligasi berdurasi panjang dan mengalihkannya ke durasi pendek. “Belum ada rencana (memperpanjang durasi lagi). Kami tunggu katalis positif,” paparnya.

Saat ini Ganesha Abadi didominasi oleh efek obligasi pemerintah hingga 62%. Sisanya pada obligasi korporasi 28%, saham 9% dan kas 1%.

Sesuai dengan kebijakan investasinya, perusahaan memang leluasa memarkirkan dana pada efek obligasi 80% – 100%, saham 0% – 10%, serta pasar uang atau kas 0% – 20%.

“Ganesha Abadi adalah reksadana pendapatan tetap yang tidak hanya berinvestasi pada obligasi negara seperti reksadana pendapatan tetap konvensional. Melainkan juga eksposur pada obligasi korporasi Indonesia yang high – yielding,” tukasnya. Sehingga, produk tersebut cocok untuk nasabah dengan profil konservatif hingga moderat.

Soni menjelaskan, mayoritas portofolio Ganesha Abadi memang diisi surat utang negara (SUN) seri acuan. Di kala pasar obligasi menguat, jenis instrumen ini mendapatkan cuan lebih besar lantaran tingginya likuiditas.

Strategi tersebut terbilang jitu. Secara year to date per 17 Februari 2017, Ganesha Abadi membukukan return 1,79%. Ini melampaui rata-rata kinerja reksadana pendapatan tetap (Infovesta Fixed Income Fund Index) yang mencapai 1,69% periode sama. “Selain pendapatan bunga, nilai aktiva bersih (NAV) naik karena ada kenaikan harga saham dan obligasi,” imbuhnya.

Ada beberapa katalis positif yang membalut pasar modal Indonesia sejak awal tahun. Mulai dari peningkatan pendapatan perusahaan, ekspektasi rendahnya inflasi pada Februari 2017, serta harapan peningkatan rating Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s.

Per 21 Februari 2017, Ganesha Abadi telah diperdagangkan dengan nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB/UP) senilai Rp 3.056,16. Reksadana pendapatan tetap ini sudah mengantongi dana kelolaan sebanyak Rp 89,72 miliar per 17 Februari 2017.

Nah, investor yang berminat mengoleksi produk tersebut dapat melakukan pembelian awal minimal Rp 100.000. Perusahaan mengutip biaya pembelian maksimal 1,5%, biaya penjualan kembali maksimum 1%, dan biaya pengalihan maksimal 2% per tahun.

Adapula biaya manajer investasi maksimum 2% per tahun serta biaya jasa kustodian maksimal 0,25% per tahun. Produk yang meluncur sejak 13 Mei 2004 ini menggunakan bank kustodian Standard Chartered Bank.

Wawan Hendrayana, Senior Research & Investment Analyst PT Infovesta Utama berpendapat, mayoritas portofolio Ganesha Abadi yang dialokasikan pada instrumen SUN memicu pergerakan yang lebih volatil ketimbang Infovesta Fixed Income Fund Index. Artinya, dengan likuiditas SUN yang cukup besar, pergerakan NAB Ganesha Abadi lebih reaktif terhadap kondisi pasar.

Wawan menduga, Ganesha Abadi sepanjang tahun 2017 berpotensi meraup return 7% – 7,5%. “Akan positif kalau inflasi kita terkendali dan suku bunga Amerika Serikat (AS) tidak naik. Dengan begitu, secara fundamental, suku bunga acuan BI seven day repo rate bisa turun ke level 4,5% dari posisi sekarang 4,75%,” ujarnya. Prediksi Wawan, Infovesta Fixed Income Fund Index tahun ini akan berkisar 7%.

Lima aset terbesar :

Obligasi pemerintah 69%
Obligasi Brantas Abipraya (Persero) 8%
Obligasi Jasa Marga 8%
Obligasi Aneka Tambang 2%
Saham Waskita Beton Precast 2%

Source : kontan.co.id