KONTAK PERKASA FUTURES – Bencana tsunami dan kebocorkan nuklir di Jepang membuat indeks bisnis negara tersebut sempat ambruk selama berbulan-bulan. Namun, bukan Jepang namanya jika tak bisa menanjak kembali. Dalam beberapa minggu terakhir ini, secara mengejutkan indeks saham Nikkei mengalami kenaikan yang cukup lumayan bahkan terhitung paling tinggi jika dilihat dalam 10 bulan terakhir ini. Indeks Nikkei pada tanggal 19 September lalu bahkan sempat menunjukkan angka 14.766, salah satu rekor tertinggi dalam tingkat indeks Nikkei selama 10 bulan terakhir.

Hal ini bisa jadi disebabkan oleh beberapa hal; selain kenaikan indeks bisnisJepang yang mulai menguat sejak usaha pemulihan pasca bencana tsunami, ada juga faktor luar berupa ‘suntikan’ kenaikan harga saham dari Bank Sentral Amerika pada bulan September lalu. Keputusan direktur Bank Sentral Amerika, Ben Bernanke, untuk menaikkan haga saham terutama bagi indeks-indeks saham Asia, cukup mengejutkan para pelaku bisnis dunia. Keputusan ini bukan hanya mendongkrak indeks saham Asia seperti India dan Hang Seng, namun juga NASDAQ dan Dow.

 

Alasan Kenaikan Harga dan Indeks Saham Nikkei

Selain adanya usaha peningkatan indeks bisnis Jepang oleh pemerintahnya pasca tsunami, kenaikan harga-harga saham termasuk Nikkei dan saham lainnya di Asia dipicu oleh gagasan Bank Sentral Amerika terkait pengurangan pemberian suku bunga jangka panjang. Alih-alih melakukan hal yang diprediksi berbagai pakar ekonomi dan bisnis dunia yaitu mengurang stimulus, Bank Sentral Amerika justru menaikkan sedikit harga saham dan melakukan program pembelian obligasi berjumlah besar dari pemerintah, yaitu sekitar $85 milyar dolar per bulan.

Akibat keputusan ini, harga berbagai indeks saham pun mengalami kenaikan. Selain Nikkei, kenaikan juga terjadi pada saham Dow dan NASDAQ yang naik walaupun hanya sekitar 1 persen untuk masing-masing. Malah, pada bulan September lalu, indeks Hang Seng juga ikut naik sebesar 2.6 persen. Kenaikan berbagai indeks ini tentu saja akhirnya berpengaruh pada indeks bisnisberbagai negara, termasuk kemampuan belanja.

Selain kedua hal tersebut, kenaikan harga emas di akhir tahun pun ikut mendorong peningkatan indeks saham. Hal ini setidaknya memberi gambaran baik terhadap indeks saham dan bisnis dunia di akhir tahun.

 

Kenaikan Indeks Saham, Bisnis dan Stimulus Ekonomi

Terkait krisis finansial yang menimpa beberapa negara dunia, Bank Sentral Amerika pun mendasarkan keputusannya untuk tidak mengurangi stimulus ekonomi agar negara-negara yang terkena dampak krisis bisa memiliki waktu untuk memulihkan keadaannya. Hal ini termasuk untuk Jepang yang hingga kini masih terus berusaha meningkatkan kondisi indeks bisnis negaranya pasca diterjang gempa bumi, tsunami dan kebocoran nuklir. Pasalnya, banyak juga negara-negara Asia yang menjadi tulang punggung perekonomian dunia, sehingga ini untuk kepentingan bersama.

Dengan adanya peniadaan pengurangan stimulus, diharapkan berbagai negara yang sedang ditimpa dampak krisis finansial dapat memulihkan kondisi indeks bisnisnya dengan cepat. Hal ini kemudian dapat membantu mendorong keadaan ekonomi global sehingga mendukung kegiatan bisnis dan ekonomi dunia agar menjadi lebih lancar. Peniadaan suku bunga jangka panjang dan peningkatan harga saham pun tercatat menimbulkan peningkatan berarti pada indeks saham, termasuk Nikkei.

Dengan adanya peningkatan indeks saham, stimulus dari Bank Sentral Amerika dan kenaikan indeks bisnis, Jepang pun menjadi optimis akan percepatan pemulihan indeks bisnis negaranya serta pemulihan kondisi ekonomi global yang sedang diterjang krisis. Indeks Nikkei yang melonjak pun menjadi kabar gembira untuk para pelaku investasi saham yang menggunakan Nikkei.