PT KONTAK PERKASA – Hingga April tahun ini, kinerja ekspor minyak sawit kurang memuaskan. Pasalnya, berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor minyak sawit termasuk biodiesel, oleofood dan oleochemical mencatat penurunan ekspor sebesar 4% secara year on year (yoy).

Dari periode Januari – April tahun ini, ekspor minyak sawit berkisar 10,24 juta ton sementara ekspor minyak sawit pada Januari – April 2017 sebesar 10,70 juta ton. Nilai ekspor pun turun 13% secara yoy dari US$ 8,6 miliar menjadi US$ 7,04 miliar.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menyampaikan, produksi minyak kelapa sawit hingga April 2018 justru meningkat sebesar 4% menjadi sebesar 14,1 juta ton.

“Produksi kita naik, tetapi ekspor turun sehingga nilai ekspor turun. Selain itu dari sisi harga, harga minyak sawit juga turun,” terang Joko, Rabu (30/5).

Sepanjang April, harga CPO global berkisar US$ 640 – US$ 680 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 662,2 per metrik ton. Harga rata-rata April ini menurun US$ 14 dibandingkan harga rata-rata pada Maret yang berkisar US$ 676,2 per metrik ton.

Joko memaparkan, ekspor ke negara-negara pasar sawit Indonesia seperti China, India, Uni Eropa dan Amerika Serikat mengalami penurunan. Sementara ekspor ke negara yang mayoritas penduduknya muslim seperti Bangladesh, Negara Timur Tengah dan Pakistan justru meningkat.

Dalam empat bulan pertama 2018, peningkatan impor minyak sawit Bangladesh sebesar 66% atau dari 358.870 ton menjadi 595.090 ton. April 2018 merupakan rekor pertama Bangladesh dengan impor minyak sawit di atas 200.000 ton.

Sementara, impor negara-negara Timur Tengah pada April meningkat 39% dari 146.840 ton di Maret menjadi 204.210 ton. Impor minyak sawit Pakistan di April juga meningkat 0,23% dari bulan sebelumnya.

“Kenaikan impor oleh Bangladesh ini memanfaatkan kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh India sehingga industri olahan di Bangladesh mendapatkan keuntungan besar. Impor Bangladesh bisa juga dipengaruhi oleh keberhasilan dari misi dagang Kementerian Perdagangan RI bersama Asosiasi Sawit pada Maret 2018,” jelas Joko.

Sementara, impor minyak sawit oleh China menurun 38% dalam caturwulan tahun ini atau dari 379.980 ton pada Maret menjadi 234.420 ton di Maret 2018.

Impor minyak sawit oleh India pun menurun 15% pada April 2018 dari bulan sebelumnya. Lalu impor minyak sawit oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat pada April menurun masing-masing 17% dan 42% dari bulan Maret 2018.

Penurunan impor ke China dikarenakan pemerintah China efektif pada 1 Mei 2018 akan menurunkan tarif impor nabati yang semula 11% menjadi 10%. China pun memberlakukan pengetatan pengawasan atas impor minyak kedelai.

Penurunan ekspor minyak sawit ke Uni Eropa dipengaruhi oleh stok minyak rapeseed dan berbagi kampanye negatif atas minyak sawit. Sedangkan penurunan ekspor ke Amerika Serikat diakibatkan stok kedelai yang tinggi di AS.

Source : kontan.co.id