PT KONTAK PERKASA – Meski baru saja menyentuh level tertingginya sejak November 2014 dalam perdagangan Rabu (16/8), harga tembaga tetap berpeluang mengalami koreksi dalam jangka menengah. Analis memperkirakan, mulai kuartal IV laju penguatan harga akan sedikit melambat.

“Sampai akhir tahun ada katalis negatif yaitu kembalinya produksi Indonesia dan Chili,” terang Andri Hardianto, Analis PT Asia Tradepoin Futures kepada Kontan, Kamis (17/8).

Menurutnya walaupun sampai saat ini masih belum ada ata sepakat antara pemerintah Indonesia dengan pihak Freeport McMoRan tetapi di akhir tahun produksi tambang Grasberg akan kembali pulih. Begitu juga dengan aksi mogok di tambang Escondida, Chile yang telah berakhir. Dua tambang tersebut adalah pemasok tembaga terbesar di dunia.

“Ditambah dari China momentum pertumbuhan industrinya sudah mulai turun,” imbuhnya.

Ia memperkirakan, pada akhir tahun 2017 harga tembaga akan berada pada kisaran US$ 5.500 -US$ 6.000 per metrik ton. Namun untuk Jumat (18/8) diproyeksikan harga tembaga akan melanjutkan penguatan pada rentang US$ 6.510 – US$ 6.600 per metrik ton dan sepekan berikutnya akan bergerak sekitar US$ 6.450 – US$ 6.700 per metrik ton.

Secara teknikal, Andri melihat harga tembaga saat ini bergerak diatas garis moving average (MA) 50, MA 100 dan MA 200 yang mengindikasikan penguatan. Sinyal yang sama juga diperlihatkan indikator Relative Strength Index (RSI) di level 69 dan indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) di level 118,5. Keadaan netral hanya diperlihatkan dari stochastic yang berada di level 54.

Source : kontan.co.id