KONTAK PERKASA FUTURES – Wacana kenaikan harga rokok hingga Rp 50.000 per bungkus, dinilai tidak logis oleh Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Timur. Pasalnya, dalam R-APBN kenaikan tarif cukai rokok tidak seperti itu.

Bahkan, kenaikannya hanya sekitar 10 persen saja.

“Berarti kalau kenaikannya mencapai hingga Rp 50.000 per bungkus, itu bukan 10 persen lagi, tapi 300 persen, itu kan tidak logis,” kata Muzammil, Sekretaris APTI Jawa Timur, kepada wartawan Selasa (23/8/2016).

Kalau kembali ke aturan, kata dia, untuk menaikkan cukai tembakau itu, pihak Dirjen bea cukai harus realistis. Oleh karenanya, dalam forum-forum tertentu, APTI akan menyikapi agar harga rokok mengikuti sesuai aturan.

“Masak dari harga Rp 15.000 per bungkus, menjadi Rp 50.000, itu kan tidak realistik. Kalau mau dinaikkan ya nggak apa-apa, tapi kalau sampai 300 persen itu kan jauh dari pemikiran,” tegasnya.

Sementara menurut Muhammad, salah satu petani tembakau di Paiton, Kabupaten Probolinggo, saat ini para petani tembakau selalu menghadapi persoalan ketidakpastian. Baik ketidakpastian harga jual setelah panen hingga ketidakpastian cuaca seperti sekarang.

“Meski saat ini cuaca masuk musim kemarau, namun hujan masih turun. Pada kondisi kemarau basah seperti saat ini, yang jelas tidak menguntungkan para petani tembakau di sini. Bisa-bisa kami gulung tikar,” keluh Muhammad, ketika merawat tembaku di sawahnya.

Para petani di Kabupaten Probolinggo, berharap agar kondisi seperti ini tidak berkelanjutan, harga anrata rokok dan daun tembakau harus stabil. Selain banyak tanaman tembakau yang rusak, hasil panen pun tidak bisa dioptimalkan lantaran banyak daun tembakau yang kualitasnya rendah.

APTI Jatim menilai wacana kenaikan harga rokok itu justru membuka kesempatan bagi para spekulan. Selain itu, pihak gudang tidak akan mengambil, sehingga harga tembakau di tingkat petani akan merosot.

Source : detik.com