PT KONTAK PERKASA – Nikel mengalami tekanan oleh peluang perlambatan ekonomi China. Tarik – menarik sentimen masih akan mewarnai laju harga nikel hingga awal tahun depan.

Mengutip Bloomberg, Jumat (23/12) harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange tergerus 3% ke level US$ 10.410 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, nikel terkikis 6,8%.

Koreksi pada harga nikel terjadi setelah Presiden China, Xi Jinping menyatakan adanya peluang pertumbuhan ekonomi di bawah 6,5%. Pada tahun 2015 lalu, para pemimpin China sempat berikrar untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi minimal 6,5% hingga tahun 2020.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim menjelaskan, China menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 6,5% – 7%. Target ini bisa tercapai, tetapi tahun depan pertumbuhan ekonomi China berisiko turun akibat adanya ketidakpastian ekonomi global.

Perlambatan ekonomi China tentu akan menjadi beban harga nikel, apalagi di saat kondisi perdagangan cenderung sepi menjelang akhir tahun. Nikel tetap tertekan meski indeks dollar AS terlihat turun. “Penurunan harga kemungkinan terjadi hingga rilis data manufaktur China awal bulan depan,” kata Ibrahim.

Jika data manufaktur positif, nikel memiliki kesempatan menguat. Apalagi, masih ada potensi penurunan produksi terkait masalah tambang bijih nikel di Filipina. Pada awal tahun depan, nikel juga didukung oleh kenaikan harga minyak jika produsen OPEC dan non OPEC melakukan pembatasan produksi.

Tetapi di sisi lain, nikel juga dibayangi oleh peluang kenaikan suku bunga The Fed yang terus menjaga tren penguatan dollar AS. “Terjadi tarik menarik sentimen yang akhirnya mengganggu penguatan nikel,” lanjut Ibrahim.

Dugaan Ibrahim, harga nikel akan bergerak di kisaran US$ 9.500 – US$ 10.900 per metrik ton hingga kuartal I-2017.

Source : kontan.co.id