PT KONTAK PERKASA – Harga minyak mentah dunia enggan menguat tinggi pada perdagangan Kamis pagi (22/11). Tarik menarik antara jumlah pasokan berlimpah di Amerika Serikat (AS) dan spekulasi OPEC akan menahan produksi menahan laju harga minyak.

Harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) di pasar berjangka diperdagangkan US$ 53,71 per barrel, atau 8 sen lebih tinggi dari penutupan.

Energy Information Administration (EIA) kemarin mengumumkan, cadangan minyak komersil AS naik 4,9 juta barel dalam sepekan menjadi 446,91 juta barel. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Desember 2017.

Sedangkan jumlah produksi minyak AS tetap di rekor 11,7 juta barel per hari.

“Cadangan minyak AS kembali menunjukkan adanya kenaikan suplai signifikan, yang datangnya dari produksi minyak AS yang bertahan tinggi,” kata Stephen Innes, head of trading untuk Asia-Pacific di perusahaan broker Oanda, Singapura, seperti dikutip Reuters.

Di tengah pastinya tingginya produksi minyak di AS, kelompok minyak Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) diperkirakan akan membahas pemangkasan produksi pada pertemuan 6 Desember mendatang.

Langkah kelompok OPEC mungkin tak mendapat dukungan dari AS. Presiden AS Donald Trump kemarin mengajak negara pemimpin OPEC, Arab Saudi untuk menyeret bunga lebih murah.

“Harga minyak lebih rendah. Hebat. Ini seperti pemangkasan pajak bagi Amerika dan dunia. Nikmatilah. Kini US$ 54, dari US$ 82. Terimakasih Arab Saudi, tapi mari lebih rendah lagi!” tulis Trump dalam akun Twitternya Rabu kemarin.

Harga minyak dunia ditutup dengan penurunan pada perdagangan Kamis (23/11). Pasar melihat pasokan minyak berlimpah di pasar, terutama dari rekor produksi di Amerika Serikat, sementara tim OPEC dikhawatirkan hanya akan menyetujui pemangkasan yang sangat terbatas untuk mengatasi masalah pelemahan harga minyak.

Harga minyak Brent di pasar Eropa turun 96 sen ke level US$ 62,52 per barel, setelah sempat jatuh lebih dari US$ 1 di awal perdagangan. Sedangkan harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) turun 78 sen ke level US$ 53,85 per barel, juga sebelumnya sempat melemah lebih dari US$ 1.

Perdagangan minyak terbatas kemarin karena ada libur pasar Thanksgiving di AS.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, harga minyak sempat menahan penurunan karena tertolong oleh pelemahan dollar AS. Ini menyebabkan harga komoditas lebih murah. “Pendorong harga lainnya mungkin dari ekspor Iran,” katanya.

Ekspor Iran mulai turun ratusan ribu barel per hari, yang memperlihatkan pembelinya mulai menjaga jarak sejak berlakunya sanksi AS terhadap Iran di awal November lalu.

Tetapi, harga minyak mentah dunia tetap mendapat tekanan mengingat cadangan minyak AS memanjak 4,9 juta barel dalam sepekan menjadi 446,91 juta barel akhir pekan lalu. Energy Information Administration (EIA) mengatakan, pasokan tersebut merupakan yang tertinggi sejak Desember 2017. Sedangkan produksi minyak AS bertahan di rekor tertinggi 11,7 juta barel per hari.

“Pertanyaannya, bagaimana sikap OPEC? Apakah mereka akan memangkas pasokan? Berapa banyak?” kata Tamas Varga, analyst di perusahaan broker PVM, seperti dikutip Reuters.

The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) berencana bertemu pada 6 Desember mendatang. Negara penggerak harga minyak ini tengah mempertimbangkan pemangkasan produksi untuk mengangkat harga.

Source : kontan.co.id