KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak kembali menguat. Gangguan pasokan yang terjadi di Libia berhasil mengangkat harga. Padahal, di saat yang sama, stok minyak di Amerika Serikat (AS) meningkat.

Rabu (29/3), pukul 19.30 WIB, harga minyak jenis light crude kontrak pengiriman Mei 2017 di New York Merchantille Exchange menguat 0,47% ke US$ 48,60 per barel dibanding hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga minyak sudah menguat 1,16%.

Faisyal, analis Monex Investindo Futures, mengatakan, saat ini cukup banyak sentimen positif yang melingkupi harga minyak mentah. Pertama, gangguan pasokan di Libia. Insiden pemblokiran oleh demostran terjadi di ladang minyak di kawasan Sharara dan Wafa. “Ini dikhawatirkan bisa mengganggu output minyak,” kata dia, kemarin.

Produksi minyak mentah Libia diprediksi berkurang sekitar 252.000 barel per hari. Normalnya, produksi minyak bisa mencapai 700.000-800.000 barel per hari.

Kedua, hasil pertemuan menteri anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada 26 Maret lalu positif. Ada peluang produsen minyak OPEC dan non OPEC memperpanjang pemangkasan produksi. Sejauh ini, Rusia dan Iran telah menandatangani kesepakatan.

Kedua sentimen positif tersebut menganulir sentimen negatif kenaikan stok minyak AS. Kemarin, American Petroleum Institute (API) mengumumkan stok minyak AS pekan lalu naik 1,9 juta barel. Meski begitu, harga minyak masih bergerak naik.

Tren masih bearish

Tapi, analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar melihat ada kemungkinan harga minyak terkoreksi setelah Energy Information Administration (EIA) AS mengumumkan data stok minyak versi pemerintah. Konsensus analis, stok minyak di pekan yang berakhir 24 Maret diperkirakan naik 1,2 juta barel.

Meski terkoreksi, harga minyak tak akan turun dalam. “Koreksi harga tidak terlalu dalam. Kemungkinan area support di kisaran US$ 47,07 per barel,” hitung Deddy.

Penurunan harga akan tertahan lantaran ada kabar ekspor minyak mentah AS ke China naik. Di 2016, ekspor minyak Negeri Paman Sam itu mencapai 520.000 barel per hari. Tahun ini, permintaan China masih cukup tinggi.

Secara fundamental, Faisyal menilai tren minyak mentah cenderung bearish. “Cadangan minyak AS yang terus bertambah dan permintaan yang lesu masih membayangi pelemahan harga,” papar dia.

Secara teknikal, Deddy melihat, harga minyak WTI bergulir di bawah MA 50, MA 100 dan MA 200, menunjukkan potensi pelemahan. MACD di area negatif dan RSI di level 39. Potensi penguatan hanya diperlihatkan dari stochastic yang berada di level 65.

Hari ini (30/3), Deddy memperkirakan harga minyak akan terkoreksi dan bergerak di kisaran US$ 49,28-US$ 48 per barel. Sepekan berikutnya, harga akan bergerak antara US$ 47,07-US$ 49,90 per barel. Sedang Faisyal memprediksi harga akan bergerak di kisaran US$ 46-US$ 48 per barel hari ini.

Source : kontan.co.id