PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak masih berupaya melanjutkan penguatan. Setelah koreksi di akhir pekan, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2018 di New York Mercantile Exchange menguat ke US$ 61,64 per barel pada Senin (8/1) pukul 7.11 WIB.

Harga minyak menguat 0,32% jika dibandingkan dengan posisi akhir pekan. Kamis lalu, harga minyak mencapai level tertinggi sejak Juli 2015 di level US$ 62,01 per barel.

Sejalan, harga minyak acuan brent untuk pengiriman Maret 2018 di ICE Futures menguat 0,24% ke US$ 67,78 per barel di awal pekan ini. Akhir pekan lalu, harga minyak masih brent pun terkoreksi dari level tertinggi sejak Juli 2015.

“Protes di Iran menambah tenaga kenaikan harga minyak yang sudah bullish,” kata Norbert Ruecker, head of commodity research Julius Baer kepada CNBC.

Efek pemangkasan produksi OPEC masih menjadi fokus utama pasar. Di sisi lain, stok minyak mentah komersial Amerika Serikat turun 7,4 juta barel pada pekan terakhir Desember menjadi 424,46 juta barel.
Data Energy Information Administration ini menunjukkan penurunan stok sebesar 20% dari posisi Maret tahun lalu. Stok minyak juga mendekati rata-rata lima tahun pada 420 juta barel.

Harga minyak masih dunia terkoreksi karena dipicu potensi produksi berlebih di Amerika Serikat. Padahal, sebelumnya harga minyak sempat reli setelah terjadi ketegangan politik di Iran.

Mengutip Bloomberg, Jumat (5/1) pukul 14.09 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2018 di New York Mercantile Exchange (Nymex) turun 0,29% ke level US$ 61,83 per barel.

Lukman Otunuga, analis FXTM menyebut, pasar memperhatikan tantangan minyak mentah dari AS.

“Momentum saat ini memberi sugesti adanya kenaikan, namun harus diingat produksi minyak serpih AS menjadi ancaman yang bisa mengetatkan harga minyak,” jelas Lukman kepada Reuters, hari ini. Kekhawatiran ini berasal dari potensi AS bakal mencapai kapasitas produksi sebanyak 10 juta barel per hari tahun ini, level produksi yang hanya bisa dicapai Arab Saudi dan Rusia.

Padahal sebelumnya, ketegangan politik di Iran, produsen minyak mentah terbesar ketiga dalam OPEC, menyebabkan harga sempat melambung. Pemangkasan produksi yang dilanjutkan oleh OPEC dan Rusia juga telah mendorong harga membaik hingga mencapai  level US$ 60 per barrel di akhir 2017.

Sementara, Energy Information Administration (EIA) memaparkan jumlah persediaan minyak mentah AS per 29 Desember lalu mencapai 424,5 triliun barel. Angka ini sudah terkoreksi dalam tiga minggu terakhir dan diperkirakan akan berlanjut lagi. Pasar berekspektasi rilis data EIA pada Rabu (10/1) pekan depan akan mencatatkan penurunan stok sebanyak 7,4 juta barel.

Source : kontan.co.id